Kamis, Desember 22, 2005

Sticking Photos on Freezer as Therapy

Sticking a poster, photos, or even notes on freezer is absolutely normal. I am sure some of you may have some special stuffs sticking on your freezer. Sure I also stick photos and recipes of cake and meal.

In the old time, when I was a young high school student, the photos I chose to stick were not the good, beautiful, or cute ones. Instead, I collected photos of unique and funny persons and decided to stick them on my freezer. Rhoma Irama was one of my victims. Several photos of him were successfully stuck. As far as I could remember, due to my insanity I even freeze Rhoma Iramas postcard into the freezer. At that time, when I came back from school, I would always be laughing loudly and felt great pleasure after looking his face. I didnt know how that custom could exist in my attitude. Maybe I just wanted to relax and release all annoying things happened during my day. To Mr. Rhoma, I apologize for what I have done in the past. Please forgive me! Peace. You are really a great dangdut singer. Yes King of Dangdut.

And now the level of my odd habit has decreased drastically. Since I became an uncle I chose to stick Alifya's photos.

Recent Alifya's photos
See! Her photos could always reduce my blood pressure.

Senin, Desember 19, 2005

Maple and Matlab Alternatives for Linux

Finally I found out OCTAVE as an alternative to MATLAB and MuPAD and MAXIMA as alternatives to Maple. I have not yet tried them though. So just I have to download them now. Soon, I hope all my computation needs could be done under Linux environment. :-)

Useful Ubuntu Related Sites

Since my previous post announcing that I was an Ubuntu newbie, I found many interesting Ubuntu related sites. Some were found from the digg site that listed 10 most popular Ubuntu sites. Anyhow, in my opinion, Paul Stamatiou's guides are excellent. It helps me a lot.

Minggu, Desember 11, 2005

TOEFL Preparation

For many Indonesian people who are lucky enough to have higher education (university or collage) would probably have been studing English for years. Correct me if I'm wrong, it would be at least 6 years studying English -3 years in Junior High School and 3 years in Senior High School. But still, few of them are get used to communicating in English -me also.

In my opinion, there must be something wrong regarding English pedagogy particulary in Indonesia. As far as I could remember, learning English was not fun and, frankly, one of some lessons I really wanted to avoid during my junior and senior high school classes. English class was really boring. I remembered the day when I was scolded by my parents after they knew my English mark was 5 (out of 10). It forced me to get extra English course though :D

Somehow, I realize that fluent in English is really important. I buy regularly National Geographic International Edition magazine. And I read a lot many English articles on the Internet. So far I think my English has improved. But I don't know the level of improvement. At least, now I seldom open my dictionary when I read English articles.

And the good news is that my bos has ordered me to have TOEFL course. My institution has payed all the course fee. To tell the truth I have never been involved in any TOEFL examinations. This will be my first TOEFL though. So I think this is a very great oportunity. I wonder how high my TOEFL score would be. Would it be under 500 or above 550? Well, I am so excited learning English now.

*opening my English Grammar page 90 "Key facts about tenses"*

Deodorant Please!

A perfect picture under a perfect place (yes, armpit I mean)! Simple, great, and creative ads... :-D

Deodorant please!

The pic above is taken from knuttz.

Selasa, November 08, 2005

Ubuntu Newbie

It's been more than 3 years I left Linux since most of my working applications run under Windows. Now I am a Linux newbie again under Ubuntu distribution :-)

You may download some Ubuntu packages and the iso image from kambing mirror.

screenshot of my GNOME Desktop
It seems that Mudreg likes the OS as well as I do he he he...

Anyhow I don't know yet the alternatives of these two powerful mathematics software, Mapple and Matlab that run under Linux. Currently, I can't afford to buy the two software under Linux licenses though :-(

Rabu, November 02, 2005

Selamat Idul Fitri 1426H

Taqabballaahu Minnaa Wa Minkum.
Taqabbal Yaa Kariim.

Mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan saya.

Kamis, Oktober 27, 2005

11 Tahun

Gak terasa 11 tahun sudah berjalan, mulai dari tampang culun kelas 1 SMA (sekarang masih sih),

para tampang culun

Mainan air sambil naik perahu karet di danau Cibubur

atraksi perahu karet

Basah-basahan habis rafting trus pada masang tampang narsis sok ganteng!

sok ganteng dan narsis

Selalu ingat kata-kata Liting. "Pecinta alam itu yang penting Otak dan Otot" sambil telunjuk kanannya menunjuk jidatnya yang jenong lalu menunjuk otot bisepnya yang guede.

Hari-hari memakai seragam sopir mikrolet selama hampir 3 tahun benar-benar tak terlupakan.

gc dan mp
pelantikan menjadi Dewan Penasehat

Bersama-sama berpetualang di alam bebas

matahari terbit di puncak Rinjani
Pelabuhan Ratu
Gunung Semeru

Kita akan tetap sahabat sejati.

Minggu, Oktober 16, 2005

Makanan Mudreg II

Sebelumnya, saya pernah bercerita tentang tempat membeli Whiskas murah yaitu di Carrefour Lebak Bulus. Pada waktu itu (Januari 2005) harga satu kaleng dengan berat bersih 400 gram dapat dibeli dengan harga Rp. 6.210,- Jadi dengan uang seratus ribu perak, saya dapat membawa pulang 10 kaleng makanan basah ditambah sebuah 1 bungkus Whiskas kering. Yah, salah satu trik untuk menghemat adalah dengan mencampur Whiskas kering dan basah. Tapi seiring datangnya trend harga melambung, sekarang harga satu kalengnya berkisar antara Rp 11.500,- sampai Rp 12.500,- Mau gak mau saya harus mencari alternatif pengganti makanan Mudreg tercintah.

Yang jadi masalah, selera makan Mudreg sukar ditebak dan ia cepat bosan. Biarpun dikasih Whiskas yang mahal dan enak, tetap saja jika sudah seminggu terus-terusan diberi dia langsung bosan. Bisa-bisa malah kucing liar yang menghabiskan jatah makannya. Kalau sudah begitu biasanya menu Ikan Cue ditambah nasi menjadi hidangan favoritnya. Soalnya tempe, tahu, telor, ayam, dan daging gak disentuh. Sayangnya, formulasi Ikan Cue ditambah nasi membuat bulu Mudreg rontok.

Ya, jadi sesekali sebagai bonus saya tetap belikan Mudreg Whiskas basah dan kering namun dengan porsi yang lebih sedikit tentunya. Pernah suatu waktu saya belikan Mudreg makanan termewah di dunia perkucingan. Makanan tersebut adalah makanan basah rasa hati ayam yang dikemas dalam kaleng buatan ScienceDiet. Satu kalengnya dengan berat bersih 404 gram harus ditebus seharga Rp. 16.500,- Hohoho... Parahnya, Mudreg gak doyan! Dasar gak tau makanan mahal!

logo Whiskas VS logo Science Diet

Akhirnya sebuah solusi ditemukan untuk menangani selera makan Mudreg dan melambungnya harga-harga. Solusi itu adalah Ikan Sarden! Satu kaleng sarden merek ABC dengan berat bersih 425 gram harganya hanya enam hingga tujuh ribuan. Lebih berat dan lebih murah dari Whiskas. Syukurnya, bulu Mudreg gak rontok setelah mengkonsumsi Sarden tersebut.

Sekarang, kalau mau masak sarden harus hati-hati. Di dalam kulkas harus tahu mana sarden khusus Mudreg dan khusus manusia. Ho ho ho...

Sabtu, Oktober 15, 2005

Nomor 81 dari 100

Berdasarkan survey yang dilakukan Mas Priyadi, blog saya menempati urutan ke-81 dari 100 blog paling top milik orang Indonesia dan berbahasa Indonesia. Gak nyangka juga ya bisa masuk 100 besar. Padahal pada awalnya mayoritas postingan blog ini berbahasa Inggris. Lagipula, saya termasuk pasif jalan-jalan melihat blog-blog lainnya. Kalau pun jalan-jalan jarang sekali saya meninggalkan jejak berupa komentar baik di artikel yang diposting maupun di shoutbox pemilik blog.

Mas Priyadi dalam menuliskan daftar peringkat tersebut menggunakan teknologi dari Technorati. Adapun berikut ini adalah beberapa penilaian tambahan berdasarkan rujukan beberapa situs lainnya. Point SiteScore saya adalah 8.2 yang dirujuk dari situs silktide. Sedangkan point PageRank google blog ini adalah 4.

Seandainya Mas Priyadi melakukan survey lebih mendetil dan memasukkan lebih banyak kriteria dalam memberikan penilaiannya, saya rasa blog ini susah masuk 100 besar. Satu lagi, sebenarnya ada berapa sih jumlah blogger Indonesia? Sudah ada yang melakukan survey? Kalau blogger Indonesia ada 101 jadi lucu juga dengan peringkat 100 besar tadi. He he he...

Terlepas dari peringkat 100 paling top, sebenarnya saya sudah bersyukur dapat menuliskan atau mengekspresikan pemikiran dan ide dengan bebas di media blog ini.

Rabu, Oktober 12, 2005

Skenario Drama Agama

Melihat tayangan TV di bulan Ramadhan ini saya setuju dengan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib).

Yang lelaki pakai sarung dan peci. Yang wanita pakai kerudung dan jilbab. Semuanya indah-indah. Cakep-cakep. Ganteng-ganteng. Cantik-cantik. Rancangan busana high taste. Islam (mudah-mudahan) membudaya di kalangan selebritis. Namun seperti biasanya, selepas Ramadhan semuanya tak berbekas dan kembali ke asal.

Menjalankan agama bagaikan bermain drama karena dituntut oleh "skenario drama agama".

Ya sudah, ayo berkhusnudzon! Mari berdoa, sambil mengaca kepada diri sendiri, setelah Ramadhan mereka tetap istiqomah dengan segala atribut ketakwaannya agar menjadi teladan bagi seluruh pemirsa. Amin.

Ibadah

mudreg tidur

Tidurnya yang berpuasa itu Ibadah kan? Jadi jangan ganggu ya, lagi ibadah nih :D

Kamis, Oktober 06, 2005

Hati-hati...

Alone alone what on key luck on!

Baca tulisan di atas hingga terdengar dalam bahasa Jawa! Apa sih artinya?

Thx Om Jos hi hi hi ...

Selasa, Oktober 04, 2005

Met Puasa Ramadhan

Selamat menunaikan ibadah puasa buat semua yang melaksanakannya! Semoga Puasa kita semua di-Ridhoi oleh Allah. Amin!

:-)

Macet Banget di Margonda

Baru saja sampai di rumah setelah terjebak kemacetan di Jalan Margonda Raya Depok. Saya mulai terjebak kemacetan di depan Gang Kober tempat di mana para Mahasiswa UI turun atau naik bis.

Awalnya saya kira hanya kemacetan biasa karena memang banyak bis dan angkot berhenti untuk menurunkan atau menaikkan penumpang. Ternyata kemacetan terus berlangsung walau Gang Kober telah dilewati. Mobil berjalan merayap pelan sekali. Kemudian saya menyadari ternyata tidak terdapat bis, angkot, dan kendaraan pribadi lainnya yang berjalan dari Depok menuju ke arah Jakarta di jalur utama Margonda. Banyak para calon penumpang yang mayoritas mahasiswa terlantar akibat tidak terdapat angkutan umum sama sekali.

Akhirnya antrian mobil saya sampai di dekat pintu masuk Universitas Gunadarma. Ternyata para mahasiswa Gunadarma sedang demo kenaikan harga BBM. Mereka menyandera sebuah mobil tangki BBM dan membakar beberapa ban bekas. Mobil tangki BBM tersebut dicat dengan pilox di sana-sini. Terdapat tulisan "SBY+Kalla = Gagal". Jadi keren juga tuh mobil ada grafitinya. Tambah nyeni gitu (pendapat pribadi loh)! Sempat khawatir sih akan terjadi aksi anarkis. Untung saja demostrasi berlangsung dengan aman.

Nah, biar udah 3 hari yang lalu BBM naik, tampaknya masih banyak yang belum menerima kenaikan BBM. Tapi kok saya merasa demo yang dilakukan para mahasiswa Gunadarma sudah kelewatan. Demo malah membuat macet, menelantarkan penumpang angkutan umum, polusi udara akibat ban dibakar dan tentunya konsumsi BBM jauh lebih boros.

Saya memang terpaksa harus mengikat ikat pinggang lebih kencang lagi dengan melambungnya harga BBM. Tetapi saya mendukung sepenuhnya keputusan pemerintah menaikkan harga BBM. Lagipula, tampaknya pemerintah sudah semakin kebal dengan demo yang berlangsung hampir setiap hari. Seharusnya mahasiswa lebih kreatip dalam mencari ide untuk mengaspirasikan pendapatnya. Demo silakan saja, tapi justru jangan menyusahkan orang lain. Demo yang mengandalkan kekerasan dan ancaman hanya menyusahkan dan membuang-buang energi saja. Lebih baik memanfaatkan energi itu untuk bekerja lebih keras lagi dalam mencari nafkah atau belajar lebih giat lagi bagi para mahasiswa.

Peace buat para mahasiswa yo!

;-)

Minggu, Oktober 02, 2005

Sampai kapan?

Hati ini belum sepenuhnya jembar akibat melihat kepanikan yang terjadi menjelang kenaikan harga BBM beberapa hari yang lalu. Musibah jatuhnya Boeing 737-200 milik maskapai Mandala di Medan masih hangat diberitakan. Wabah Flu Burung masih belum dapat ditanggulangi. Kini sebuah bom meledak lagi di Bali. Sampai kapan sih badai musibah menimpa Bangsa Indonesia?

Sabtu, September 17, 2005

Newtown's First Law... of Cats

Sir Isac Newton, a wellknown English physicst and mathematician, cut an opening in the bottom of a door in his house so his cat could pass in and out at will. When the cat had kittens, Newton made a smaller hole next to the original one.

But I think I won't do the same thing as Newton did since lots of Mudreg's friends are good at stealing my fish for dinner and make a massive devastation of the fine food table. Not only are they easy in and out at will but also stealing my meal at will.

:-D

Sabtu, September 10, 2005

Alifia Saraswati Nugroho

Ponakanku sudah punya nama sekarang. Namanya Alifia Saraswati Nugroho. Alifia artinya anak pertama, Saraswati perempuan yang haus akan ilmu, dan Nugroho adalah nama bapaknya. Semoga cita-cita kedua orang tua yang disemaikan ke dalam nama kelak terwujud. Amin.

Inilah keajaiban Sang Pencipta. Melihat bayi seakan tidak pernah bosan dan justru membuat kedamaian di hati. Damai, lembut, halus, dan polos tanpa dosa.

Oh iya, saya upload beberapa foto Alifia di album fotopages saya.

Rabu, September 07, 2005

Jadi Pakde

Alhamdulillaah, adik perempuanku akhirnya melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat dan lucu. Si mungil lahir hari Rabu 7 September 2005 pagi hari pukul 03.22 di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta dengan proses persalinan normal. Lahir dengan keadaan sehat dengan panjang 49 cm dan berat 3,210 Kg. Hingga saat ini si mungil belum memiliki nama. Insya Allah, ayahnya segera mendapatkan nama yang indah sesuai dengan doa dan cita-cita kedua orang tuanya. Amin.

Sekarang lagi gak bisa cerita banyak deh, pokoknya seneng banget!

Nah ini adikku sama si mungil

Melihat wajahnya, gak salah dong kalau saya panggil Umairah atau si kemerah-merahan.

Horrreeee udah jadi Pakde! Tinggal dapetin Budenya aja nih. He he he…

Jumat, September 02, 2005

Matematika, Kenapa Tidak?

Senang dan bangga mempunyai adik yang tergolong cerdas. Ada perasaan haru dan bahagia melihat keberhasilannya kuliah di perguruan tinggi negeri. Semenjak kelas tiga SMP saat usianya masih 14 tahun ia sudah harus kehilangan bimbingan dan kasih sayang dari seorang ayah. Masih terekam jelas di memori saya bagaimana kaget dan sedihnya adik saya mengetahui ayahandanya meninggal dunia sesaat setelah shalat tarawih di bulan suci Ramadhan. Ternyata semua kesedihan itu dapat dilaluinya dengan baik hingga akhirnya ia berhasil menuai prestasi demi prestasi.

Saya merasa belum dapat menjadi seorang kakak yang baik. Apalagi jika dibandingkan dengan kesabaran dan ketekunan almarhum ayah saya dalam memperhatikan dirinya. Beruntung, ibu saya adalah seorang yang bermental baja. Kasih sayangnya yang luar biasa ternyata mampu membuat adik saya melalui saat-saat sedih tersebut dan bahkan membuat motivasi dirinya untuk maju sangat besar. Sebagai kakak saya hanya berusaha menangkap minat dan bakatnya. Setelah itu berusaha menjuruskan minat dan bakatnya tanpa memaksakan kehendak mengenai masa depan (jurusan) yang harus digelutinya di perkuliahan. Sekarang ia memulai perjuangan babak baru dalam hidupnya.

Baiklah, sebenarnya saya ingin menampilkan salah satu tulisannya. Di usianya yang masih 18 tahun, tulisannya cukup bagus. Ia mampu bercerita dan menuliskan pemikirannya dengan baik tentang mengapa akhirnya ia memilih Jurusan Matematika. Berikut tulisannya:

Banyak orang tidak tertarik dengan jurusan matematika. Mereka bertanya-tanya mau jadi apa nantinya kalau sudah lulus dari jurusan matematika. Lalu kenapa saya bisa tertarik dan masuk jurusan matematika?

Sejak kecil, saya sudah tertarik dengan pelajaran matematika lebih dari pelajaran lainnya. Lain halnya dengan pelajaran biologi, fisika, dan kimia yang menuntut agar saya harus menghafal begitu banyak teori dan rumus agar dapat menguasainya, di matematika saya mendapatkan keleluasaan dan imajinasi berpikir untuk dapat menguasainya. Memang masih banyak rumus yang harus dihafal, tetapi tidak sesulit di pelajaran lainnya.

Meskipun saya menyukai pelajaran matematika lebih dari yang lainnya, sampai kelas 3 SMA saya tidak ada pemikiran untuk memasuki jurusan matematika. Saya masih beranggapan bahwa jika kuliah di jurusan matematika, saya hanya akan bisa bekerja sebagai guru atau dosen matematika. Sama sekali tidak terpikir jenis pekerjaan lainnya yang membutuhkan ahli matematika.

Sebenarnya sejak masuk SMA, saya mempunyai minat dan perhatian lebih terhadap dunia bisnis. Saya mencoba mencari uang ketika di SMA dengan berbagai cara. Hal ini membuat kakak saya menyarankan kepada saya untuk masuk matematika saja. Kemudian saya bertanya-tanya kenapa harus masuk matematika. Setelah dijelaskan oleh kakak saya, akhirnya saya mengerti. Saya dapat mengembangkan minat saya di bidang bisnis dan wirausaha dengan masuk jurusan statistika. Dengan mempelajari statistika, saya bisa menumbuhkan pola pikir seorang pengusaha. Bukan berarti jurusan ini adalah tujuan akhir saya. Ini hanyalah jembatan awal dari cita-cita saya yang akan saya jelaskan kemudian.

Tetapi tidak seperti di IPB yang mempunyai jurusan statistika sendiri, di UI tidak terdapat jurusan statistika. Dan saya tidak menaruh minat terhadap IPB. Saya merasa saya harus kuliah di UI yang memang sebagai satu-satunya universitas yang menyandang nama bangsa Indonesia. Selain itu saya tinggal di Depok, jadi tidak jauh dengan UI. Setelah saya telusuri ternyata ada jurusan statistika di UI tapi menjadi bagian dari jurusan matematika.

Akhirnya pada saat awal kelas 3 SMA saya memutuskan untuk masuk jurusan matematika UI. Saya mulai serius belajar untuk bisa masuk ke sana. Berbagai try out sudah saya ikuti untuk mengetes kemampuan saya dan ternyata nilai saya selalu mencukupi. Di akhir kelas 3, saya ikut PPKB UI jurusan matematika.

Selama kelas 3 SMA, saya juga sempat berpikir untuk masuk teknik industri karena di sana saya juga dapat mengembangkan bakat saya. Tetapi saya sudah terlanjur ikut PPKB, artinya jika saya diterima PPKB maka saya akan mengambilnya, jika tidak maka saya akan masuk teknik industri. Saya sempat ragu dan akhirnya saya serahkan kepada Allah dan menunggu yang terbaik. Ternyata saya diterima di matematika UI, maka saya tidak jadi mengambil SPMB. Saya yakin pilihan Allah inilah yang terbaik.

Kembali ke anggapan orang-orang di awal. Kini saya sudah kuliah di jurusan matematika, saya jadi tahu kalau ternyata saya bisa mendapatkan banyak pekerjaan. Ternyata di matematika UI itu sendiri terbagi menjadi lima bidang yaitu matematika murni, statistika, komputasi, riset operasi, dan aktuaria. Jadi bukan hanya bisa jadi guru atau dosen jika kuliah di jurusan matematika. Lebih dari itu, saya bisa mendapat pekerjaan di setiap perusahaan karena setiap perusahaan pasti butuh ahli statistika atau komputer. Bahkan saya bisa membuat lapangan pekerjaan sendiri.

Sekali lagi saya tekankan bahwa ini bukanlah tujuan akhir saya di universitas. Tujuan akhir saya di universitas adalah saya dapat masuk S2 ekonomi sehingga saya dapat menyalurkan minat saya. Saya masuk jurusan matematika jurusan statistika adalah agar saya mempunyai dasar-dasar yang kuat untuk melanjutkan S2 nanti.

Demikianlah alasan saya memilih jurusan matematika. Saya sudah mempunya cita-cita dengan masuk di jurusan matematika. Mungkin di masa-masa mendatang akan ada rencana-rencana baru dalam hidup saya. Mungkin juga ada perubahan dalam rencana yang sekarang, misalnya ternyata saya tidak jadi masuk bidang statistika tetapi malah masuk bidang lain di jurusan matematika. Manusia memang dapat merencanakan sesuatu tetapi tetap saja Allah yang memutuskan. Jadi, enjoy aja!

Dek Amri, semoga kelak cita-citamu terwujud ;-)

Selasa, Agustus 30, 2005

Teorema Palsu

Lagi iseng mengutip sebagian dari soal-soal yang harus dikerjakan adik saya yang baru masuk kuliah di jurusan Matematika. Di jurusannya tugas ini didapatkan dari senior dan dinamakan "SAMPAH MATEMATIKA". Kebiasaan mengerjakan matematika tanpa mengetahui dasar yang benar pasti akan menemui kesulitan dalam mencari kesalahan-kesalahan pada persamaan berikut ;-)

Iseng buat asah otak aza :D

TEOREMA:
3 = 4

Bukti:

Anggap
a + b = c

4a - 3a + 4b - 3b = 4c - 3c
4a + 4b - 4c = 3a + 3b - 3c
4(a + b - c) = 3(a + b - c)
4 = 3

Mau coba cari lagi?

TEOREMA:
1 + 2 + 4 + 8 + 16 = -1

Bukti:

Anggap
x = 1 + 2 + 4 + 8 + ...
2x = 2 + 4 + 8 + ...
------------------------ (-)
-x = 1
x = -1

Jadi 1 + 2 + 4 + 8 + 16 + ... = -1

Lagi...

TEOREMA:
Semua bilangan adalah nol

Bukti:

Anggap
a = b, maka
a = b
a2 = ab
a2 - b2 = ab - b2
(a + b)(a - b) = b(a - b)
a + b = b
a = 0
jadi, b = 0

Satu lagi...

TEOREMA:
log (-1) = 0

Bukti:

(*)  log [(-1)2] = 2 log (-1)
(**) log [(-1)2] = log 1 = 0
dari (*) dan (**)
2 log (-1) = 0
log (-1) = 0

Selamat mencari :-)

Minggu, Agustus 28, 2005

Partisipasi Industri dalam Membantu Pendidikan

Kebutuhan masyarakat modern saat ini semakin kompleks dan banyak serta harus secepatnya terpenuhi. Akibatnya, roda perindustrian berjalan sangat kompetitif dan cepat. Kalangan industri harus memiliki daya kreatifitas tinggi, selalu inovatif, dan cekatan dalam mengimbangi perubahan perilaku masyarakat yang sangat dinamis. Konsekuensi logis bagi kalangan industri untuk mengimbanginya adalah dengan memiliki sumber daya manusia yang unggul. Tentunya sumber daya unggul tersebut tidak akan dapat dipenuhi tanpa adanya pendidikan yang mumpuni.

Sudah sepatutnya lah, kalangan industri memberikan bantuan pendidikan kepada masyarakat yang bentuk dan teknisnya dapat berupa apa saja. Setidaknya kontribusi tersebut sedikit banyak mampu meningkatkan harkat hidup masyarakat (bangsa Indonesia khususnya). Jika taraf hidup masyarakat membaik otomatis produk hasil industri semakin terserap pasar dan tentu saja memberikan keuntungan finansial bagi kalangan industri. Jadi menurut saya tidak salah apabila dikatakan memberikan bantuan pendidikan merupakan "pamrih" berupa investasi tidak langsung.

Jadi sebenarnya terdapat hubungan timbal balik yang sangat erat antara kalangan industri dan masyarakat. Namun perlu diingat, terdapat keuntungan lebih besar yang tidak dapat diukur dengan materi bagi bangsa Indonesia. Taraf pendidikan yang baik otomatis mencerdaskan, mengangkat harkat, martabat, dan jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Sayangnya, saat ini belum banyak kalangan industri ikut berpartisipasi memajukan dunia pendidikan Indonesia. Masih banyak dari sedikit kalangan industri yang membantu belum sepenuhnya ikhlas. Hal ini dapat dilihat dari kontrak dan kesepakatan yang mengikat para penerima bantuan dari pihak pemberi bantuan sehingga mereka tidak dapat bergerak bebas berekspresi dengan ilmu yang didapatkannya.

Di era informasi dan persaingan global ini, masih adakah rasa kepedulian dan kesadaran di kalangan industri dalam berbhakti sosial kepada masyarakt khususnya membantu dunia pendidikan?

Rabu, Agustus 24, 2005

Kanibalisme Masyarakat Kecil

Namanya Asep, lulusan SMA asal Tasikmalaya dan sudah dua tahun ini mencari nafkah di sekitar terminal Kampung Rambutan Jakarta Timur. Berlatar belakang masalah ekonomi dan keluarga membuat lelaki berumur 32 tahun ini terpaksa hijrah ke Jakarta. Baginya Jakarta yang kejam dan keras setidaknya lebih baik dari kampung halamannya yang sama sekali tidak terdapat pekerjaan.

Pada masa awal kedatangannya di Kampung Rambutan, ia berjuang mengumpulkan uang dengan membersihkan bis, berjualan jeruk, dan menjadi pemulung plastik yang dihargai tiga ribu perak perkilogramnya. Pelataran masjid terminal menjadi tempat peristirahatan sementaranya di waktu malam. Itu pun resiko diusir dengan cara tidak santun sering didapat walau hujan sedang turun sekalipun. Kejam memang.

Waktu terus bergulir. Berkat kerja keras, Asep berhasil mengumpulkan setengah juta perak yang digunakannya sebagai uang pelicin agar diterima sebagai karyawan di pul Mayasari Bhakti Kampung Rambutan. Ia berpikir, tak apa-apalah mengeluarkan modal segitu toh teman-temannya harus menyiapkan uang pelicin yang sama dan bahkan lebih besar. Seorang teman Asep juga harus menyiapkan setengah juta perak hanya untuk menjadi kenek bis Kota. Ada juga teman Asep yang harus merogoh kocek sangat dalam untuk menyiapkan satu setengah juta hanya untuk bisa menjadi sopir bis. Lucunya, teman Asep yang polos lainnya harus sedia sejuta perak hanya untuk menjadi tukang sapu di sebuah mega mall.

Akhirnya ia diterima di bagian pemeriksaan bis yang pulang ke pul dengan gaji tiga ratus ribu perak sebulan. Sepetak kamar pun akhirnya mampu ia sewa dengan tarif seratus tiga puluh ribu per bulannya.

Waktu kerja Asep yang tidak penuh dimanfaatkan untuk memperluas pergaulannya. Para penjual asongan hingga kaki lima mulai mengenal dan familiar dengan sosok Asep yang tambun, gelap, dan berwajah sangat Sunda itu. Sesekali ia menjadi tukang pijat para sopir dengan bayaran sepuluh ribu sekali pijat. Selain mampu menghilangkan rasa lelah dan menyegarkan orang-orang yang dipijatnya, ternyata Asep mampu menyembuhkan penyakit kronis. Salah satu orang langganannya yang sakit darah tinggi sembuh setelah beberapa kali dipijat. Lambat laun semakin banyak orang di sekitar kos dan tempat kerjanya mengenal Asep sebagai tukang pijat. Namun masalah baru justru muncul. Tessy tetangga kamar kos petaknya ternyata sudah lama berprofesi sebagai tukang pijat. Jelas Tessy marah dan tidak suka dengan kehadiran Asep yang dianggap merebut lahan orang. Padahal bagi Tessy, Asep sudah memiliki pekerjaan tetap di pul Mayasari Bhakti. Ingin cari damai, Asep pun mengalah dan mulai menolak permintaan pijat.

Entah bagaimana awal mulanya, suatu hari Asep memenangi perkelahian dengan seorang pentolan preman Kampung Rambutan. Para pedagang menjadi senang dan segan dengan kehadiran Asep. Tindakan premanisme pun berkurang walau tidak bisa dikatakan hilang sama sekali. Bahkan Asep pernah diminta para pedagang untuk menjadi juru bicara mereka ketika aparat melakukan pembersihan besar-besaran para pedagang liar di Kampung Rambutan.

Usaha Asep gagal total mencegah tindakan tidak manusiawi tersebut. Lapak-lapak pedagang kaki lima dihancurkan, gerobak-gerobak makanan diangkut paksa, bahkan beberapa oknum aparat berbuat biadab. Setelah mengobrak-abrik dagangan, mereka mengambil uang yang berhasil dikumpulkan para pedagang itu. Asep marah bukan kepalang mengetahui seorang kakek tua yang sudah mendapatkan tiga ratus lima puluh ribu perak diambil seenaknya oleh seorang oknum keparat itu. Padahal uang sejumlah itu akan digunakan untuk membiayai berobat cucunya yang sedang sakit di Bogor. Namun Asep tidak berdaya akibat teman-temannya tidak memiliki nyali besar menghadapi para aparat yang jumlahnya banyak dan bersenjata tongkat pemukul lengkap.

Kejadian menyedihkan itu pun berlalu begitu saja sambil membawa luka dalam di hati para pedagang yang mulai berani berdagang secara ilegal di terminal Kampung Rambutan. Kehidupan mulai 'normal' di sana menunggu operasi pembersihan berikutnya.

Suatu hari seorang rekannya menawarkan Asep pekerjaan yang lebih layak. Asep ditawarkan menjadi seorang petugas keamanan pemadam kebaran. Tapi ia tidak diangkat menjadi pegawai negeri melainkan pegawai yayasan. Gaji enam ratus ribu perak yang dua kali lipat lebih banyak dari gajinya di pul Mayasari Bhakti membuat Asep langsung menerima ajakan temannya itu. Baginya tawaran pekerjaan itu merupakan kesempatan langka dan sangat baik.

Berbekal ijazah SMA, Asep mengikuti berbagai tes hingga akhirnya mencapai tahap akhir yaitu wawancara. Ternyata Asep kembali menemukan pil pahit berupa kenyataan bahwa ia harus menyiapkan sejuta perak agar diterima. Ia diberi batas waktu oleh oknum pewawancara tersebut hingga tanggal tertentu untuk menyerahkan uang pelicinnya. Apabila tidak dapat dipenuhi maka tempat Asep akan diisi orang lain yang sanggup membayar. Asep menyanggupi permintaan oknum tersebut karena baginya pekerjaan tersebut merupakan batu loncatan untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Ia kembali banting tulang, hingga sehari batas waktu yang ditentukan Asep baru mendapatkan tiga perempat juta. Ia masih harus mencari seperempat juta lagi agar dirinya mulus diterima.

Hingga akhirnya tadi malam, Asep - saudara angkat saya - datang berkunjung ke rumah mengutarakan niatnya untuk meminjam sisa uang seperempat juta tadi. Asep bercerita panjang lebar tentang perjuangannya selama dua tahun hidup di daerah terminal Kampung Rambutan. Kami pun mengobrol dan berdiskusi. Mengetahui Asep memiliki bakat menolong orang yaitu memijat, saya pun memutuskan untuk tidak memberikan pinjaman seperempat juta itu. Saya usulkan untuk mencoba bernegosiasi terlebih dahulu dengan oknum tersebut agar mau menerima tiga perempat juta saja. Dan sebuah solusi dicoba ditawarkan kepada Asep agar menjadi seorang tukang pijat profesional. Kebetulan Bu Yati - seorang tukang pijat langganan keluarga - mengaku kekurangan banyak tenaga pemijat guna memenuhi kebutuhan pelanggannya yang semakin banyak. Apalagi pelanggan Bu Yati ada orang-orang 'Besar'. Sebutlah dua di antaranya mantan Presiden RI Megawati dan Raja Dangdut Indonesia Rhoma Irama *teeeeeeeet ngikutin suara gitar patahnya*. Toh dengan menjadi karyawan Bu Yati, Asep tidak harus bergelut dengan Tessy tetangganya karena daerah operasi Asep pasti berbeda dan lebih luas dari daerahnya Tessy.

Nah Asep, perjuangan hidupmu akan memasuki babak baru. Jika memang jodoh, dengan uang tiga perempat juta, om oknum keparat itu mau menerima Asep menjadi karyawan pemadam kebakaran. Atau jika nasib berkata lain, semoga Bu Yati dapat segera mempekerjakan kamu menjadi ahli staf pijatnya. Tapi jujur saja, saya lebih senang kamu jadi seorang tukang pijat profesional. Kalau kamu cerdas bukan tidak mungkin lama-lama akan memiliki jaringan sendiri dan membuka cabang-cabang di banyak kota besar. Atau setidaknya, mudah-mudahan kamu bisa keluar dari jaring-jaring kanibalisme yang mengakar di masyarakat jika masih saja mengharapkan bekerja pada suatu instansi pemerintah.

Asep, asyik juga ya jadi saudara angkat kamu. Mudah-mudahan keadaan menjadi lebih aman jika berada di Kampung Rambutan dengan cukup menyebut 'ASEP DOLE' sama preman-preman dan pedagang di sana.

Selasa, Agustus 23, 2005

Ikhlas dan Tekun saja gak Cukup

Baru dua hari yang lalu saya menulis tentang keadaan Warni, hari ini dia sudah tidak bekerja lagi di rumah dan mudah-mudahan ia sudah berada di tempat tinggalnya di Tegal.

Dilihat dari kasus Warni, ternyata saya memang belum memiliki 'sesuatu' yang dapat menumbuhkan motivasi bekerja dan belajar di hatinya. Baru sehari kerja ia sudah merasa bosan. Mungkin saya di benaknya adalah orang yang sok tahu. Seakan-akan saya yang paling tahu dengan keadaan dirinya sehingga seenaknya saja menasehati dan menyuruh belajar sesuatu yang ia tidak senangi.

Sudahlah, saya rela ia kembali lagi ke Tegal menemani dan merawat anaknya tercinta. Semoga ia mendapatkan pekerjaan yang lebih layak daripada menjadi seorang pembantu rumah tangga. Sukur-sukur niat dan motivasi untuk belajar membaca tumbuh dan beruntung mendapatkan seorang guru membaca.

Ternyata niat yang ikhlas untuk berbuat kebaikan tanpa diiringi pengetahuan yang cukup tentang apa yang akan diperbuatnya, kesabaran untuk melakukan di waktu yang tepat, menghilangkan kesombongan, dan kearifan akan menjadi tidak berguna apabila perbuatan baik itu malah tidak dapat dilaksanakan.

Tampaknya jalan untuk menjadi tenaga pendidik yang baik diperlukan banyak belajar lagi. Belajar bukan saja menguasai materi yang akan diajarkan tetapi juga belajar cara menyampaikan materi agar materi yang diajarkan mampu diserap dan diterima dengan baik.

Senin, Agustus 22, 2005

PR Kita Masih Banyak

Namanya Warni, tapi dia lebih senang dipanggil Nani. "Soalnya saya cuman bisa nulis Nani, kalau Warni susah," jawabnya memberikan alasan mengapa dirinya tidak mau dipanggil Warni. Itulah salah satu jawaban polos seorang perempuan berusia 21 tahun asal Tegal beranak satu yang sudah ditinggal kabur suaminya.

Terus terang Warni adalah seorang pembantu yang baru mulai hari ini bekerja di rumah ibu saya. Ia adalah seorang perempuan unik di zaman 60 tahun Indonesia telah merdeka. Tapi ingat, keunikannya bukan karena kecantikan polos alami ala pedesaan ataupun karena kemolekan lekuk tubuhnya. Ia adalah seorang yang 'Buta Huruf'. Sungguh kaget hati ini mengetahui dirinya sama sekali tidak mengetahui huruf-huruf alfabet A hingga Z ketika saya sedang menanyakan seputar dirinya dan perkejaan yang bakal dilakoninya setiap hari di rumah.

Hati ini pun semakin miris mengetahui dirinya yang seorang muslimah tidak bisa sholat, wudhu, dan bahkan tidak hafal surat al-Fatehah. Syukurlah ia masih dapat melafalkan basmallah secara lengkap walau tidak fasih.

Sulit sekali rasanya membayangkan diri sendiri yang dilahirkan tanpa cacat fisik sedikitpun namun kemudian menyadari bahwa dirinya berada dalam kegelapan. Mata yang melihat hakikatnya buta. Seakan-akan dunia ini gelap tidak bercahaya lalu bertambah suram akibat di sekeliling badan kita terhimpit oleh tembok-tombok tinggi. Tidak berbedalah diri ini dengan seekor binatang yang hanya makan, minum, tumbuh dewasa, buang hajat, bereproduksi, tua, dan lalu mati. Akal pikiran sebagai senjata manusia dibelenggu oleh ketiadaan sinar cahaya ilmu dan tembok besar itu. Ketiadaan akal pikiran kadang membuat manusia justru lebih rendah dari binatang. Setidaknya insting binatang lebih kuat dibandingkan insting manusia. Ah sedih sekali…

Air muka yang kelelahan, wajah yang sudah terdapat kerutan, dan rambutnya yang cepak membuat dirinya tampak jauh lebih tua dibandingkan perempuan-perempuan seusianya yang cenderung sedang mekar-mekarnya.

Dari pembicaraan lanjutan antara dia dan saya, sepertinya ia tidak keberatan dan tidak menyesali dengan keadaan dirinya yang buta huruf. Baginya sudah cukup dapat bekerja mencari nafkah guna menghidupi anaknya semata wayang. Sudah bisa diduga bahwa faktor ekonomilah yang membuat dirinya tidak dapat mengenyam bangku pendidikan.

Kutanyakan kepadanya apakah dia mau seandainya diajarkan membaca. Dengan tegas ia menjawab tidak mau. Males sama pusing Mas kalau belajar! Enakan kerja." Akal saya terus berputar agar motivasi dalam dirinya untuk setidaknya bisa membaca tumbuh. Namun sanggahan dan jawaban yang itu-itu juga
membuat saya kecewa. Tampaknya dirinya sudah antipati bahwa bisa membaca itu tidak berguna dan sudah sangat terlambat bagi dirinya. Tapi saya tidak akan mundur untuk membuat dirinya bisa membaca selama dia bekerja di rumah.

Kota Tegal yang berkembang dan terletak di Pulau Jawa saja masih ada penduduknya yang buta huruf. Pasti masih ada Warni dan Warno lainnya di Tegal dan tentu lebih banyak lagi Warni dan Warno lain di daerah yang lebih pelosok dan terpencil di seluruh Indonesia. Pengentasan kemiskinan bagi saya adalah cita-cita yang terlalu muluk jika pendidikan disepelekan dan ditelantarkan.

Nah teman-teman, tampaknya kita memang harus lebih bersyukur lagi. Keegoan kadang-kadang menutup mata hati untuk membantu orang lain yang tidak seberuntung kita. Homework atau PR kita masih banyak dalam menolong saudara-sadara kita. Pertolongan dengan hati ikhlas seberapapun besarnya dan dilakukan terus menerus semoga saja bisa menjadi salah satu bentuk pertolongan yang terbaik. Kebahagian mereka adalah kebahagiaan kita juga bukan?

:-)

Jumat, Agustus 19, 2005

Damailah Selalu!

"Gila, akhir pulang juga loe Ray. 2 tahun man 2 tahun..!" *nepuk-nepuk pundak Array dengan penuh semangat*

"Hi hi hi kenapa loe heboh banget!"

"Kurus banget, malah begengan elo daripada gue nih? Makan apa aja sih di hutan?" *ngeliat heran wajah Array yang pucat ditambah tulang pipi menonjol dan mata sedikit cekung*

"Biasa aja lagi... paling Celeng, Ular, Ayam, mau nyoba? Enak gila hihihi!"

"Gimana perasaan elo perang sama sodara sendiri di Aceh man?"

"Pedih perih Yu! Pengalaman pertama gue bunuh orang GAM bikin gue gak bisa tidur 2 hari. Gak mikirin terus istri sama anak-anaknya. Gue stress berat apalagi sesama Muslim."

"Gile loe sadis juga. Ngomong-ngomong selama perang 2 tahun ini sudah berapa nyawa dah loe sikat?"

"Mana sempet gue ngitung Yu! Banyaklah... Gue pertamanya terpaksa nembak mereka daripada gue ditembak dulu! Alhamdulillah gue sebagai komandan sangat bersyukur. Biar jadi pasukan pemukul yang masuk-masuk hutan gak ada satu pun anak buah yang mati kena peluru. Ada satu orang meninggal tapi itu gara-gara sakit Malaria."

"Wah gile loe dah jadi pembunuh berdarah dingin."

"Keadaan man keadaan. Lagian loe pasti bakal nangis kalo gue balik ke Jakarta tinggal nama doang. Ngaku dah loe!"

"Iya sih, anak-anak juga kangen banget sama elo Ray! Pas ada tsunami hampir tiap hari kita-kita nelponin bokap nyokap elo cuman pengen mastiin elo selamat."

"Wah waktu itu gue lagi di gunung masih ngejar GAM."

"Untung deh loe, sekarang gimana? Gak ke Aceh lagi kan?"

"Sapa bilang? Kalo perjanjian gagal pasukan gue bakal yang pertama dikirim balik ke sana."

"Hayooooo! Udah deh jangan lagi. Sampe kapan mau damai nih Indonesia. Lagian Aceh dah ditimpa bertubi-tubi musibah. Gak bisa bayangin kalo perjanjian MOU GAM-RI gagal."

"Gue sebagai prajurit pasti seneng lah Aceh damai, gue gak usah perang sama sodara sebangsa dan seagama. Energi yang dipakai buat perang mending buat membangun."

"Ha hahaha... dasar tentara otaknya berbakti sama nusa bangsa melulu hahaha...!!!"

Hehehe.. daripada elo gak berbakti sama siapa-siapa. Sama orang tua masih berbakti gak loe? Jangan-jangan durhaka luh!"

"Kapan balik ke markas di Malang Ray?"

"Minggu depan, tapi besok gue ke Bandung mau ketemu Bokin hehehe"

"Anjrit... mentang-mentang dah mau merrit kagak sabar aja nih bawaannya!"

"Normal man normal.....!"

"Rencana elo di Malang?"

"Gue mau sekolah lagi Yu. Mau ngambil S1 nih. Doain ya. Lulus Akabri aja gak cukup. Gue perlu ilmu!"

"Yakin loe! Hebat gue dukung Ray!"

"Ya kalo gak ada perang lagi Insya Allah gue ambil S1. Kalo perang ya harus dibela lah"

"Udah lah mudah-mudahan kagak ada lagi perang. Kita-kita udah lelah dengan segala pertikaian antar bangsa. Capek!"

"Hehehe cie sok patriotik!"

"Gak terasa dah jam 11 malem nih, gak enak gue balik orang-orang rumah dah pada tidur."

"Oke deh Yu, salam ya buat anak-anak GC. Sorry banget gue gak bisa nemuin mereka cuti gue sebentar banget dan bini gue di Bandung dah marah-marah minta dijenguk!"

"Sip bro... salam ya buat calon elo. Biar cepet yak!"

"Bye!"

"Wa'alaikumussalaam"

Gak pernah bisa membayangkan kehilangan seorang sahabat karib yang gugur di medan perang. Zamannya gak ada penjajah lagi kecuali di Palestina dan Irak sepertinya aneh aja kok bisa tewas di medan perang? Mana perang lawan saudara sebangsa dan seakidah. Array, Jebag semoga elo berdua bisa selamat dan kita dapat terus bersama sampai kita beranak cucu dan jika memang harus mati jangan mati di medan perang apalagi peperangan melawan bangsa sendiri.

Semoga cita-cita elo berdua kuliah S1 bisa terwujud sukur-sukur sampai S3 seperti pak SBY. Menjadi prajurit yang cerdas yang membela rakyatnya.

Sampai ketemu lagi di pesta pernikahan nanti friends!

Kamis, Agustus 18, 2005

Bakti bagi Ibu Pertiwi

17 Agustus 2005 baru saja terlewati. Sebagian besar entitas masyarakat Indonesia menyambutnya dengan berbagai macam cara. Bermacam perlombaan rakyat yang meriah digelar di seantero Nusantara. Stasiun televisi menayangkan berbagai tayangan khas kemerdekaan mulai dari siaran langsung pengibaran dan penuruan Sang Saka Merah Putih hingga kondisi bangsa dan negara setelah 60 tahun merdeka. Media cetak pun tidak ketinggalan dengan menyajikan tulisan-tulisan khusus yang menyorot tajam 'kemunduran' yang dialami bangsa kita setelah terlepas dari 'Penjajah'. Bahkan para blogger pun tidak ketinggalan memeriahkan suasana kemerdekaan dengan tulisan dan tema Merah Putih.

Tema-tema yang diangkat tayangan televisi, media cetak, dan blogger memiliki sebuah kesamaan. Kesamaan tersebut berupa kesadaran bahwa kemerdekaan yang telah berumur 60 tahun pada hakikatnya belum sepenuhnya didapat. Kesadaran bahwa sebagai bangsa, Indonesia sedang mengalami kemunduran di setiap sendi kehidupan. Kesadaran bahwa sebagai bangsa kita masih belum cerdas dalam menghadapi tantangan globalisasi. Kesadaran bahwa kita masih saja terlena dengan kondisi alam kayanya yang sebenarnya mulai binasa akibat ketamakan. Kesadaran bahwa kerukunan dari berbagai agama dan suku bangsa yang ada belum sepenuhnya berjalan.

Tidak sedikit sebenarnya putra-putri Ibu Pertiwi yang cerdas telah berjasa mengharumkan nama bangsa. Tidak terhitung pula anak bangsa yang tulus dan ikhlas dalam membangun negeri namun sayangnya terlalu naif. Wajar jika bangsat-bangsat bodoh anak bangsa yang justru menguasai birokrasi dan hukum rimba. Pun memaki-maki para dedemit binti siluman nan haus darah tidaklah ada guna. Bisa jadi teriakan berupa caci maki sebenarnya mengarah ke teman, kerabat, saudara, orang tua, atau justru diri sendiri.

Sungguh buram kondisi bangsa ini. Lalu apa upaya sebagai anak bangsa yang biasa-biasa ini guna membangun dan memperbaiki itu semua? Saya sendiri tidak tahu upaya apa itu. Tulisan ini setidaknya sebagai sarana penyadaran dan penggugat diri sendiri agar lebih serius, tekun, bekerja keras, dan bersungguh-sungguh dalam mengerjakan setiap pekerjaan. Juga untuk selalu siap sesuai dengan kemampuan setiap ada kesempatan untuk menolong orang lain. Juga untuk memantapkan diri ini untuk menjadi 'Pahlawan tanpa tanda jasa'!

Mudah-mudahan hal yang kecil, sepele, dimulai dari diri sendiri, dan dimulai saat ini juga dapat memberikan kontribusi walau tidak berarti banyak bagi Ibu Pertiwi.

Sabtu, Agustus 06, 2005

Nongol lagi

Kembali lagi ke dunia blogging. Hanya kali ini tidak ada lagi yang namanya komen maupun shoutbox. Hanya ingin bebas berekspresi menuangkan imajinasi seliar mungkin!



--
:D

Kamis, Mei 12, 2005

Jumat, Mei 06, 2005

Tepi Campuhan

Saya akan pergi mencari Tepi Campuhan. Semoga saya menemukannya atau setidaknya yang mirip dan mampu memberikan sensasi yang sama seperti yang dinyanyikan Kaka. Temans... saya hiatus dulu ya ;-)

Senin, Mei 02, 2005

Minggu, Mei 01, 2005

Lari Pagi

Lari pagi sekarang tidak sesegar dulu.

Jika dulu, lari pagi masih dapat merasakan datangnya kabut. Masih bisa mencium segarnya embun pagi yang membasahi dedaunan dan rerumputan. Kicau burung terdengar indah ikut menambah semangat berlari. Masih dapat melihat kelelawar-kelelawar yang baru pulang dari mencari makan di malam harinya. Hidung dimanjakan oleh bau harum bunga kapas yang sedang bermekaran jika sedang bermusim. Mata pun dimanjakan oleh indahnya deretan pepohonan karet yang rindang. Daerah aliran Sungai Ciliwung sangat indah dengan rimbunan pohon bambu, nangka, melinjo dan semak belukar. Sesekali terlihat biawak dan tupai menyemarakkan pagi hari.

Tapi itu dulu! Kadar oksigen yang biasa diserap paru-paru harus berkurang akibat makin sedikitnya pepohonan dan bertambahnya polusi udara. Kabut pagi sudah menjadi kabut asap. Semakin sedikit tukang koran yang masih setia dengan sepedanya. Kicau burung tertelan suara deru mesin. Hutan karet berubah menjadi hutan beton. Segarnya embun pagi pun kalah oleh bau busuk Ciliwung yang makin penuh dengan sampah. Entah kemana perginya tupai dan biawak.

Sedihnya! Pak Badrul Kamal sebagai walikota Depok sungguh tidak mempunyai visi dengan masa depan kota Depok. Di awal kehadiran Plaza Depok dan Mall Depok membuat banjir perumahan yang berada di sekitarnya. Lahan walikota Depok yang rindang harus rela tergusur oleh pembangunan ITC Depok. Bangunan bersejarah peninggalan Belanda di Margonda Raya harus terjepit oleh pembangunan pusat perbelanjaan Margo City. Suasana semakin mengerikan dengan dibangunnya Depok Town Square. Entah bagaimana Depok nantinya setelah pembangunan apartemen selesai yang pastinya akan berdiri angkuh di samping jalan Margonda yang semakin macet.

Modernisasi yang berjalan seharusnya tidak mengorbankan lingkungan.

Ah sudah lah... mau gimana lagi? Saya sendiri pun ikut andil merusak keasrian kota Depok. OMDO aja. Besok-besok lari pagi abis subuh aja, jam 5 pagi. Pasti masih segar ya?

Oh iya, mudah-mudahan UI masih akan terus hijau.

Sabtu, April 30, 2005

Cinta membangkitkan cinta, penghinaan tiada menghidupkan cinta

Kerapkali aku bertemu dengan orang kulit putih, yang sekali-kali bukan bodoh, malahan bangsawan pikiran, tetapi angkuhnya bukan main, tiada tertahan. Hal itu menyakitiku bukan main, dan terlalu banyak orang merasakan kepada kami, bahwa kami orang Jawa sebenarnya bukanlah manusia. Betapakah orang Belanda hendak kami, - orang Jawa - kasih sayangi, apabila kami diperlakukannya secara demikian. Cinta membangkitkan balasan cinta, tetapi penghinaan selama-lamanya tiada akan menghidupkan rasa cinta.

Raden Ajeng Kartini

Senin, April 25, 2005

Dasar Penyakit!

Inilah para penderita penyakit kronis yang biasa menghinggapi orang Indonesia.











Hehehe... semuanya adalah foto-foto untuk buku tahunan SMA 1 yang akan lulus tahun 2005 ini. Semua model di atas adalah teman sekelas adek bungsuku murid kelas 3 IPA 1, SMA 1 Depok Jawa Barat Indonesia. Idenya segar. Masa SMA memang masa yang paling indah dan tidak terlupakan :-D

Hayo, dulu pas SMU, di buku tahunan jadi apa? *gue jadi Jet Li*

Rabu, April 20, 2005

Pusing-pusing di Jakarta

Last Saturday (16/04/2005) I had a good time scrolling Jakarta with my new friends who came from Malaysia. Remember the jargon "Ganyang Malaysia, Selamatkan Siti!"? Anyway instead of ganyang Malaysia I prefer had Siti, and so I had her here in Jakarta. Ha-ha, forget the current case which raised the tense between the two countries. Don't let the dispute make our friendship ruined. Not all Malaysians are bad and vice versa. I wish the Ambalat case could be solved between the two governments peacefully without any war involved. Amen.

Frankly, it was my first time meeting a Malaysian weblog-mate. She visited Jakarta along with her friends. Therefore, when I first met them I was a bit nervous and I got no idea at all which places should be visited that could make them interested.

After knowing that they mostly are Baladewa so the first destination was Aquarius Pondok Indah Music & Film store. As far as I know the store is quite complete so they could choose some albums that might not be available at Malaysian market and certainly are cheaper.

Siti, I was surprised to know that you like Jamrud. You even mentioned Surti Tejo which definitely would be banned in Malaysia due to its naughty lyric. What's on earth that makes you like some of their music? I'm sure that Jamrud must be not as famous as Sheila on 7 and Peter Pan in Malaysia, right? Now, we have another thing in common after cute cats and AC Milan, it is rock music. Yeah, two thumbs up for you Siti! :D

After satisfying the thirst of shopping cassettes, CDs, and VCDs we went to Abuba Steak in Cipete. We then had a good lunch with sirloin, tenderloin, and chop-lamb. For my Indonesian tongue Abuba was great, wish you girls had enjoyed the dish as I had.

We continued the trip to Monas. It is the national monument located in the heart of Jakarta. We took pictures of delmans (two-wheeled buggy pulling by a horse), sculpture of Indonesian hero Pangeran Diponegore riding a horse, colorful Monas in the afternoon, sun set, and so on.

The day went dark, but our feet were still on Monas Area. We could not go back before having the sight-seeing at the fair. Unfortunately, nothing was interesting there. However, they bought 3 pairs of cute shocks for only Rp. 10.000, - (US$ 1.1)

Then we had dinner at an insane and crazy café the "Comedy Caffee" in KTS area. There was a live music performed by a non-famous but yet exciting local band that sang some hit list songs and mostly Indonesian songs. The food itself was not so good but the waiters and waitress were indeed so crazy. They uttered absurd as well as dirty words so often. Indonesians call them as "Latah People". Thanks God, you girls don't know the meaning. :D

The night getting late, so we went home. I brought them back to their hotel in Duren Tiga Pancoran.

Bandung, Taman Safari, and Tanah Abang are some places that I could not accompany you girls. Please forgive me. To tell the truth I was terribly worried that some demonic guys would treat you down there. Alhamdulillah, nothing badly had happened to you.

I would like to apologize for the horrible reception you had from some officials of Sukarno-Hatta airport. Sure, Indonesians should respect their own people first before they ask other country to respect themselves. So guys, let's respect each other apart from its religion, culture, customs, color, wealthy, and nations! Peace *ngikutin gayanya Slank*.

Siti, Diy, and Liza, I hope you enjoyed your trip in Bandung, Jakarta, Taman Safari, and Tanah Abang. From traffic jam, pollution, annoying merchants, taking mikrolet, people sitting on roof of electric train, crazy people, romantic couples everywhere in yard, to cheap goods, good and delicious food, good performance, European sedans, and so on, yeah those are Jakarta. Please "Jangan Kapok!" hehehe…

Jika I ade rezeki, bolehlah saya nak pergi ke Kuala Lumpur. Ingin coba pula pusing-pusing kat sana. Pasti seronok ye ;-)

Rabu, April 13, 2005

Selamat Bergabung Ferissa Johan

Sebenernya kurang tepat menggunakan kata-kata Selamat Bergabung. Kesannya saya adalah seorang kru Jejak Petualang. Saya hanya seorang penggemar acara Jejak Petualang itu pun tidak bisa mengikuti semua episodenya. Namun pada intinya saya ingin mengucapkan selamat kepada Ferissa Johan yang terpilih menjadi presenter acara Jejak Petualang TV7 menggantikan Riyanni Djangkaru yang resmi mengundurkan diri.

Ferrisa Johan
Ferissa Johan

Bagi saya pribadi, Jejak Petualang sulit terpisahkan dari karakter seorang Riyanni Djangkaru. Tanpa bermaksud merendahkan, wajah manis nan ceria Irma Merdeka yang gesit, cuek, dan lucu masih belum dapat menggantikan peran seorang Riyanni Djangkaru. Mungkin selama ini, Irma dalam episode-episode Jejak Petualangnya selalu bersama Riyanni sehingga terdapat kesan Irma hadir hanya sebagai pelengkap. Makanya tidak heran di hati ini ada perasaan sedih, terkejut, dan kehilangan mengetahui presenter andalan Jejak Petualang mengundurkan diri.


Irma Merdeka

Namun, akhirnya saya menyadari bahwasanya saat ini Riyanni Djangkaru memiliki prioritas utama yang harus diselesaikan (baca: skripsi, udah 3 tahun katanya loh *gosip mode = on*). Mungkin saja bagi para penggemar Jejak Petualang lainnya merasa wajah jahil Riyanni Djangkaru sudah membosankan *gue belom pernah bosen sih*. Jadi pergantian ini lebih sebagai suatu penyegaran.


Riyanni Djangkaru

Memang Ferissa Johan tidak akan dapat menggantikan karakter Riyanni. Justru Ferissa harus menonjolkan karakternya sendiri tanpa harus mencoba menjadi seorang Riyanni. Jika tidak, itu akan menjadi beban dan Ferissa kemungkinan akan gagal menjadi presenter andal Jejak Petualang. Gue setuju dengan wejangan Riyanni buat kamu "Bangkitkan saja spirit of travelling in u :)"

Semoga kehadiranmu Ferissa Johan dapat memberikan warna baru dalam episode-episode Jejak Petualang berikutnya.

*Ssttt! JPers mania semuanya, mana dari ketiganya yang paling manis hayo?


Hohoho saya masih tetap memilih Maria Renata
*ngebayangin Maria Renata jadi presenter Jejak Petualang*
Maaf ya mba Riyanni, Irma, dan Ferissa. Orang Betawi bilang "Ah cuman becande, jangan diambil ati ye...".

Foto Ferissa, Irma, dan Riyanni diambil dari situs Jejak Petualang. Foto Maria Renata diambil dari forum webgaul.

Selasa, April 12, 2005

My New Mac

Falling in love with Mac OS X at first try! Gosh, it's so clean, tidy, and eye-catching.

It's just only my new desktop environment. My machine itself is still Intel-based PC. Instead of buying an expensive Apple machine, I chose to have a Mac Os-like first. Anyway it's free though :p

Liputan Kyai Kanjeng di Aberdeen

Seperti yang pernah saya ceritakan di post terdahulu bahwa saya penggemar Kyai Kanjeng yang dipimpin Budayawan Emha Ainun Najib. Sudah 2 bulan grup ini tidak tampil di Taman Ismail Marzuki Cikini, ternyata mereka sedang mengadakan road show di negara-negara Eropa. Well, silahkan saja kunjungi laporan lengkap Kyai Kanjeng di Aberdeen Skotlandia di blog Ibu Zeynita Gibbons. Jangan lupa, lihat juga galeri foto Kyai Kanjengnya.

Situs resmi Kyai Kanjeng dan Emha Ainun Najib, www.padhangmbulan.com

Senin, April 11, 2005

Turut Berduka Cita

Belum lama musibah terjadi pada mahasiswa bernama Haryanto, lagi Daliu Aga Gunawan kembali menjadi korban . Kesal dan geram kejadian ini harus kembali terulang. Padahal mereka mahasiswa baik-baik dan berprestasi.

Semoga arwah keduanya diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Jumat, April 08, 2005

Puisi Hati Emas

Orang baik tak bisa mati
Karena kebaikan lebih kuat dari kematian
Orang yang berhati emas
Adalah matahari yang menyinari dunia

Jika ia meninggal
Mataharinya berpindah
Dari langit
Ke dalam jiwa setiap manusia

Orang yang berjiwa mulia
Harus rela kehilangan dirinya
Karena setiap orang merasa berhak memilikinya
Dan karena untuk mengasihi semua orang
Ia perlu hidup seribu tahun lamanya

Jika orang yang berhati mulia
Menjalankan kewajiban
Untuk meninggalkan dunia
Maka sesungguhnya dunia tak merelakannya
Jutaan manusia menangisinya
Laut dan gunung-gunung
Ingin pergi bersamanya
Bahkan kehidupan ingin berhenti saja
Daripada meneruskan langkah
Tanpa didampingi oleh manusia berjiwa mulia

Roma 5 April 2005
Emha Ainun Nadjib

Selamat jalan Sri Paus.

Asking Permission First?

Ups... should we ask permission to these countries first to produce our heritage products that are descended from our ancestor?

  • Malaysia patents traditional Batik motif.
  • Japan patents Indonesian healthy food Tempe.
  • Singapore patents rattan craft pattern.

I just came across this issue from Republika daily newspaper this morning. Who's next will patent another Indonesian heritage?

Kamis, April 07, 2005

Life is Beautiful

Huah nyaman
Zzzz...........

Segernya.........
*yawning and stretching* Huah..... so fresh today as usual.

Moral pictures: Life is always beautiful no matter how mess up the situation. Everything could be set up to normal and even better. And when everything is normal then it's so beautiful. So never give up bro and sis ;-)

*Hu uh... gue suruh ngerapihin frame foto kesayangan gue yang ada alm. ayah tercinta.... gara-gara Mudreg tengil nih.*

Selasa, April 05, 2005

JT2005 Rajawali Tempur

My dream jet-fighter
This is my art-work. It was created during my meeting time today. Hehehe it was so boring.

Jalan-jalan Pagi

Betapa nikmatnya bisa berbelanja di pagi buta di pasar tradisional. Saya sudah lupa terakhir kali pergi ke pasar entah sendirian atau menemani ibunda berbelanja. Yang sedikit teringat adalah sewaktu saya masih 'nyantri' di bangku Tsanawiyyah di sebuah pondok 'Perdamaian' di kota Solo Jawa Tengah. Setiap pagi hari di hari Jum'at (hari libur nasional para santri) saya selalu menyempatkan lari pagi dan mampir di Pasar Kleco sekedar membeli jajanan khas seperti Getuk. Dengan beralaskan sendal saya bersama teman-teman duduk di pinggir sungai (udah lupa lagi namanya :() menikmati Getuk yang dibungkus dengan daun pisang. Waktu itu dengan uang seratus lima puluh (150) rupiah mendapatkan porsi yang cukup untuk sarapan. Murah meriah yang bikin puas hati dan nikmat.

Nah, tadi pagi saya kembali lagi muter-muter di pasar tradisional. Para pedagang dengan semangat menjajakan dagangannya seperti buah-buahan, sayuran, dan bahan-bahan makanan lainnya. Bau rokok tingwe (ngelinting dewe) yang tercium mengingatkan masa kecil dan kampung kakek. Terdapat sebuah lapak seorang ibu setengah baya yang ramai diserbu banyak orang. Si ibu menjajakan nasi uduk beserta gorengannya, kopi, teh, dan rokok kretek. Pokoknya lengkap untuk menikmati sarapan pagi yang sederhana. Tak jauh dari lapak ibu tersebut terlihat gerobak bakso dan ketoprak. Melihat dan mencium berbagai aroma makananan khas itu membuat perut berbunyi tidak karuan. Laper! Hehehe...

Aura pasar tradisional benar-benar tidak berubah. Hawa Indonesia yang saya rasakan sewaktu saya kecil masih tetap terjaga. Mungkin inilah yang membuat saya menikmati jalan-jalan di pasar tradisional di pagi buta. Masa bodoh dengan keadaan yang kotor, becek, dan bau. Pokoknya nikmat.

Berhubung saya terlalu terkesan dengan keadaan pasar yang ramai, saya kelupaan untuk mengabadikannya dalam jepretan kamera digital. Saya hanya berhasil mengambil sebuah foto. Itupun seadanya jadi maklum ya kalau tidak maksimal.

Pagi hari di pasar tradisional
Pagi hari di pasar tradisional Kemiri Depok.

Nah sewaktu pulang, saya sempatkan membeli tiga bungkus Pecel. Sesampainya di rumah langsung saja ingin segera memanjakan perut yang dari tadi bunyi tidak karuan. Pagi hari sarapan dengan Pecel berlaukan Bakwan dan Tahu Isi ditemani segelas teh manis hangat dan diiringi musik dangdut klasik sungguh nikmat! Lidah bergoyang, mulut kepedesan, dan mata merem melek nikmatin suara Herlina Effendy yang menyanyikan Suling Bambu. Sebenernya masih ada yang kurang. Sebatang rokok kretek! *saya bukan perokok aktif*.

Pecel pedes, bakwan, dan tahu isi
Pecel pedes yang terdiri dari sayur-sayuran ditemani bakwan dan tahu isi goreng. Sarapan 3000 perak. Hehehe...

Indonesia banget gak sih?! :p

Jumat, April 01, 2005

Perempuan Makhluk Perkasa

Kekerasan, pelecehan, dan penganiayaan terhadap perempuan terus saja terjadi. Baik di lingkungan kantor, fasilitas publik, hingga ke rumah tangga yang sangat sukar dilacak. Sungguh dengan adanya hal-hal tersebut, menurut saya pribadi merupakan cerminan bahwa betapa perkasanya perempuan itu sebenarnya.

Dari diri saja, mereka harus merasakan ketidaknyamanan yang hadir ketika siklus bulanannya datang. Belum lagi proses kandungan selama 9 bulan hingga kelahiran bayi yang merupakan perjuangan hidup mati seorang ibu. Betapa kerasnya perjuangan janda-janda yang harus menafkahi dan membiayai sekolah anak-anaknya. Betapa kuatnya mereka yang harus menahan rasa malu, aib, tekanan, ancaman, kekerasan verbal, hingga fisik di dalam rumah tangga. Betapa tidak berdayanya perempuan ketika mendapatkan pilihan-pilihan sulit.

Hal-hal tersebut yang secara tidak langsung menyebabkan ada sebagian perempuan yang terpaksa menyerahkan kehidupannya terhadap sesuatu yang dibencinya demi menjaga apa yang dicintainya. Huh ironis sekali jadi membuat hati ini kesal setengah mati kepada para pelaku kekerasan dan pelecehan tersebut.

Bagi mereka yang masih saja melakukan pelecehan terhadap perempuan, bayangkanlah seandainya ibu atau anak perempuan sendiri yang mengalaminya. Atau justru mereka melakukan kekerasan terhadap Ibu kandung dan anak perempuan kandung nya sendiri. Maka seharusnya mereka merasakan proses 9 bulan kehamilan hingga kelahiran. Dasar pria berhati iblis!

--
Surga ada di bawah telapak kaki ibu.

*lagi shock gak bisa tidur n jadi pengen cium kaki nyokap*

Selasa, Maret 22, 2005

Blog Bang Ben

Aye baru aje bikin blog Bang Ben. Saat ini blog tersebut hanya menampilkan lagu-lagu bang Ben. Ya hitung-hitung sebagai perwujudan cinta saya terhadap Budaya Betawi dan alm. H. Benyamin Sueb.

Oke deh, dengan ini saya nyatakan Blog Benyamin Sueb diluncurkan ;-) Kalau ingin menyumbang teks lagu-lagu almarhum Bang Ben silahkan kirim ke saya di adi[dot]wahyu[at]gmail[dot]com

http://benyamin-sueb.blogspot.com
Blog tersebut tidak akan diupdate lagi.

Update: Supaya postingan dapat mencakup lebih luas budaya betawi, maka saya buat blog lagi betawi.blogsome.com. Di dalamnya terdapat berbagai macam hal yang berhubungan dengan budaya Betawi.

Jumat, Maret 18, 2005

Seandainye DPR kayak Tukang Becak

Tukang beca Bang Samiun
Terkenal gemar berpantun
Genjot sambil melamun
Cari muatan di statsiun
Ada muatan sepasang
Datang dari Pariangan
Naek becak dan berdendang
Sambil petik kecapi di tangan

Tukang becak takjub lupa minggir dan berpaling
Dari blakang eh disruduk sebuah mobil
terguling-guling gediblek nyungsep akiaoooo

Tukang becak marah-marah
Hendak menyiapkan kawan
Untung dapat disadarkan kawan
Dalam rasa persatuan

Sabar sabar!

Tuh, Bang Samiun nyang udeh ditabrak mobil aje masing bise besabar. Katanye wakil rakyat? Udeh sekoleh tinggi-tinggi betingkeh lagunye anak SD. Ame Bang Samiun kalah martabat? Mikirinnye makan martabak aje sih! Malu aye punye bangse :(

Kamis, Maret 17, 2005

Superfriendster

I came across many improvements on friendster. One of the new features is superfriendster. It's a new way to get new members or friends. Well, weblog, chat, and discussion are the other features that currently I have not tried yet.

Okay then, let's try superfriendster out and be my friends ;-)

Minggu, Maret 13, 2005

Kangen Ame Bang Ben

Biar babe aye Jawa Tulen dan Ibu Sunda aseli, aye lahir di tanah Betawi dan cinte mati ame Budaye Betawi dan tentu aje almarhum Benyamin Sueb. Ceritanye aye lagi rindu ame beliau nih dan nostalgie dikit inget-inget waktu aye masih jadi bocah ingusan nyang kalo maen kagak pernah make alas kaki alias nyeker.

Iye, Bang Ben sedikit banyak udeh mempengaruhi aye dalam mencintai budaye Betawi. Buat sohib-sohib nyang belom kenal betul ame Bang Ben boleh diliat biografi singkatnye di Tempo.

Pacaran jaman dulu
Dari film Tarzan Kota, ada di benyamin.multiply.com

Asyik ye? Jamannye bang Ben mude, kagak ade istileh apel itu kudu nonton bioskop, jalan-jalan di mal, makan di kafe, maen di Dufan, apelagi nyampe nge-blog kasmaran. Pokoknye irit kagak usah ngeluarin doku atawa fulus buat naek andong, ngisi bensin, naek helicak, ame bayar pulse. Liatin deh Bang Ben ame Mpok Ide. Cukup bawa buah-buahan terus gelar tiker. Maklum kebun masing luas. Kalo haus tinggal nyari tukang bajigur. Aduh sedapnye... Resikonye paling kena ujan aje. Biar udeh nyiapin payung kaki bakal belepotan kena tanah yang debel. Ame kudu ati-ati ame Hansip nyang ngeronde. Tuh orang doyan ngintip, gangguin, ame kekian. Pade kagak bise seneng liat orang bahagie. Bawaannye sirik. *Ups kagak nyambung same topik, sok tau lagi*

Selain piyawai maen pelem, beliau juga gape nyanyi. Menurut aye lagu-lagunye Bang Ben sederhana, lucu, seger, dan mencerminkan budaye Betawi saat itu. Aye juga demen kalo beliau duet ame mpok Ide. Biar kate Bang Ben ame Mpok Ide bukan suami istri, buat aye mereka jodoh. Kalo mereka udeh nyanyi klop betul dah. Salah satu judulnye nyang aye terus kesengsem sampe sekarang adaleh Begini Begitu. Lirik lagunya hanya ade dua kate. Begini ame begitu. Mpok Ide ngotot bilang "begini" sedangkan Bang Ben ngotot bilang "begitu". Duh lucunye.

Ade lagi nih, lagu nyang nyeritain hari resepsi nikahan suami isteri. Judulnye Penganten. Aye kutipin aje ye liriknye.

"Bang Mamat nape duduk bengong aje? Malu dong tetamu pade ngeliatin aje."
"Duh, Mineh. Ati Abang deg-degan. Rasenye badan abang pada dingin."
"Bang mamat e kenape tampangnye jadi pucet?"
"Nggak kenape-nape Abang ngga bisa bilang."
"Entar dikate ape penganten sedih aje."
"Sedih bukannye sedih rase dibakar api."
"Siapa tuh yang ngeliatin aye. Tetamu kenape merongos aje (aih)?"
"Duh, Mineh. Abang minta ampun aje. Yang dateng sebenarnye bini gue..."

Begimane, udah mulai jatoh cinte belom? Oh iye, sebelum ditutup, ini aye tampilin lagi Bang Ben lagi maenan Aer. Tampang desa rejeki kota.

Inget sodare-sodare, Bahase Betawi aye masih caur. Harap maklum!

Jumat, Maret 11, 2005

Pet A Cat!

Knocked Out
The super duper lazy Mudreg.

You may believe it or not, but I found these interesting facts

Owning a cat can lower your blood pressure, cut your cholesterol level, and possibly even save you from a heart attack. According to a University of Pensylvania study, doctors found that petting a cat can reduce both a humans's heart rate and blood pressure. Researchers have also shown that the survival rate for heart patients with pets is considerably higher than for those who have no animal companionship.

From "The Big Book of Cats. Fun Facts, Fascinating, Anecdotes, and Quotations about Felines" from Gramercy Books New York.

Mighty Mudreg
The mighty Mudreg...