Selasa, Agustus 30, 2005

Teorema Palsu

Lagi iseng mengutip sebagian dari soal-soal yang harus dikerjakan adik saya yang baru masuk kuliah di jurusan Matematika. Di jurusannya tugas ini didapatkan dari senior dan dinamakan "SAMPAH MATEMATIKA". Kebiasaan mengerjakan matematika tanpa mengetahui dasar yang benar pasti akan menemui kesulitan dalam mencari kesalahan-kesalahan pada persamaan berikut ;-)

Iseng buat asah otak aza :D

TEOREMA:
3 = 4

Bukti:

Anggap
a + b = c

4a - 3a + 4b - 3b = 4c - 3c
4a + 4b - 4c = 3a + 3b - 3c
4(a + b - c) = 3(a + b - c)
4 = 3

Mau coba cari lagi?

TEOREMA:
1 + 2 + 4 + 8 + 16 = -1

Bukti:

Anggap
x = 1 + 2 + 4 + 8 + ...
2x = 2 + 4 + 8 + ...
------------------------ (-)
-x = 1
x = -1

Jadi 1 + 2 + 4 + 8 + 16 + ... = -1

Lagi...

TEOREMA:
Semua bilangan adalah nol

Bukti:

Anggap
a = b, maka
a = b
a2 = ab
a2 - b2 = ab - b2
(a + b)(a - b) = b(a - b)
a + b = b
a = 0
jadi, b = 0

Satu lagi...

TEOREMA:
log (-1) = 0

Bukti:

(*)  log [(-1)2] = 2 log (-1)
(**) log [(-1)2] = log 1 = 0
dari (*) dan (**)
2 log (-1) = 0
log (-1) = 0

Selamat mencari :-)

Minggu, Agustus 28, 2005

Partisipasi Industri dalam Membantu Pendidikan

Kebutuhan masyarakat modern saat ini semakin kompleks dan banyak serta harus secepatnya terpenuhi. Akibatnya, roda perindustrian berjalan sangat kompetitif dan cepat. Kalangan industri harus memiliki daya kreatifitas tinggi, selalu inovatif, dan cekatan dalam mengimbangi perubahan perilaku masyarakat yang sangat dinamis. Konsekuensi logis bagi kalangan industri untuk mengimbanginya adalah dengan memiliki sumber daya manusia yang unggul. Tentunya sumber daya unggul tersebut tidak akan dapat dipenuhi tanpa adanya pendidikan yang mumpuni.

Sudah sepatutnya lah, kalangan industri memberikan bantuan pendidikan kepada masyarakat yang bentuk dan teknisnya dapat berupa apa saja. Setidaknya kontribusi tersebut sedikit banyak mampu meningkatkan harkat hidup masyarakat (bangsa Indonesia khususnya). Jika taraf hidup masyarakat membaik otomatis produk hasil industri semakin terserap pasar dan tentu saja memberikan keuntungan finansial bagi kalangan industri. Jadi menurut saya tidak salah apabila dikatakan memberikan bantuan pendidikan merupakan "pamrih" berupa investasi tidak langsung.

Jadi sebenarnya terdapat hubungan timbal balik yang sangat erat antara kalangan industri dan masyarakat. Namun perlu diingat, terdapat keuntungan lebih besar yang tidak dapat diukur dengan materi bagi bangsa Indonesia. Taraf pendidikan yang baik otomatis mencerdaskan, mengangkat harkat, martabat, dan jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Sayangnya, saat ini belum banyak kalangan industri ikut berpartisipasi memajukan dunia pendidikan Indonesia. Masih banyak dari sedikit kalangan industri yang membantu belum sepenuhnya ikhlas. Hal ini dapat dilihat dari kontrak dan kesepakatan yang mengikat para penerima bantuan dari pihak pemberi bantuan sehingga mereka tidak dapat bergerak bebas berekspresi dengan ilmu yang didapatkannya.

Di era informasi dan persaingan global ini, masih adakah rasa kepedulian dan kesadaran di kalangan industri dalam berbhakti sosial kepada masyarakt khususnya membantu dunia pendidikan?

Rabu, Agustus 24, 2005

Kanibalisme Masyarakat Kecil

Namanya Asep, lulusan SMA asal Tasikmalaya dan sudah dua tahun ini mencari nafkah di sekitar terminal Kampung Rambutan Jakarta Timur. Berlatar belakang masalah ekonomi dan keluarga membuat lelaki berumur 32 tahun ini terpaksa hijrah ke Jakarta. Baginya Jakarta yang kejam dan keras setidaknya lebih baik dari kampung halamannya yang sama sekali tidak terdapat pekerjaan.

Pada masa awal kedatangannya di Kampung Rambutan, ia berjuang mengumpulkan uang dengan membersihkan bis, berjualan jeruk, dan menjadi pemulung plastik yang dihargai tiga ribu perak perkilogramnya. Pelataran masjid terminal menjadi tempat peristirahatan sementaranya di waktu malam. Itu pun resiko diusir dengan cara tidak santun sering didapat walau hujan sedang turun sekalipun. Kejam memang.

Waktu terus bergulir. Berkat kerja keras, Asep berhasil mengumpulkan setengah juta perak yang digunakannya sebagai uang pelicin agar diterima sebagai karyawan di pul Mayasari Bhakti Kampung Rambutan. Ia berpikir, tak apa-apalah mengeluarkan modal segitu toh teman-temannya harus menyiapkan uang pelicin yang sama dan bahkan lebih besar. Seorang teman Asep juga harus menyiapkan setengah juta perak hanya untuk menjadi kenek bis Kota. Ada juga teman Asep yang harus merogoh kocek sangat dalam untuk menyiapkan satu setengah juta hanya untuk bisa menjadi sopir bis. Lucunya, teman Asep yang polos lainnya harus sedia sejuta perak hanya untuk menjadi tukang sapu di sebuah mega mall.

Akhirnya ia diterima di bagian pemeriksaan bis yang pulang ke pul dengan gaji tiga ratus ribu perak sebulan. Sepetak kamar pun akhirnya mampu ia sewa dengan tarif seratus tiga puluh ribu per bulannya.

Waktu kerja Asep yang tidak penuh dimanfaatkan untuk memperluas pergaulannya. Para penjual asongan hingga kaki lima mulai mengenal dan familiar dengan sosok Asep yang tambun, gelap, dan berwajah sangat Sunda itu. Sesekali ia menjadi tukang pijat para sopir dengan bayaran sepuluh ribu sekali pijat. Selain mampu menghilangkan rasa lelah dan menyegarkan orang-orang yang dipijatnya, ternyata Asep mampu menyembuhkan penyakit kronis. Salah satu orang langganannya yang sakit darah tinggi sembuh setelah beberapa kali dipijat. Lambat laun semakin banyak orang di sekitar kos dan tempat kerjanya mengenal Asep sebagai tukang pijat. Namun masalah baru justru muncul. Tessy tetangga kamar kos petaknya ternyata sudah lama berprofesi sebagai tukang pijat. Jelas Tessy marah dan tidak suka dengan kehadiran Asep yang dianggap merebut lahan orang. Padahal bagi Tessy, Asep sudah memiliki pekerjaan tetap di pul Mayasari Bhakti. Ingin cari damai, Asep pun mengalah dan mulai menolak permintaan pijat.

Entah bagaimana awal mulanya, suatu hari Asep memenangi perkelahian dengan seorang pentolan preman Kampung Rambutan. Para pedagang menjadi senang dan segan dengan kehadiran Asep. Tindakan premanisme pun berkurang walau tidak bisa dikatakan hilang sama sekali. Bahkan Asep pernah diminta para pedagang untuk menjadi juru bicara mereka ketika aparat melakukan pembersihan besar-besaran para pedagang liar di Kampung Rambutan.

Usaha Asep gagal total mencegah tindakan tidak manusiawi tersebut. Lapak-lapak pedagang kaki lima dihancurkan, gerobak-gerobak makanan diangkut paksa, bahkan beberapa oknum aparat berbuat biadab. Setelah mengobrak-abrik dagangan, mereka mengambil uang yang berhasil dikumpulkan para pedagang itu. Asep marah bukan kepalang mengetahui seorang kakek tua yang sudah mendapatkan tiga ratus lima puluh ribu perak diambil seenaknya oleh seorang oknum keparat itu. Padahal uang sejumlah itu akan digunakan untuk membiayai berobat cucunya yang sedang sakit di Bogor. Namun Asep tidak berdaya akibat teman-temannya tidak memiliki nyali besar menghadapi para aparat yang jumlahnya banyak dan bersenjata tongkat pemukul lengkap.

Kejadian menyedihkan itu pun berlalu begitu saja sambil membawa luka dalam di hati para pedagang yang mulai berani berdagang secara ilegal di terminal Kampung Rambutan. Kehidupan mulai 'normal' di sana menunggu operasi pembersihan berikutnya.

Suatu hari seorang rekannya menawarkan Asep pekerjaan yang lebih layak. Asep ditawarkan menjadi seorang petugas keamanan pemadam kebaran. Tapi ia tidak diangkat menjadi pegawai negeri melainkan pegawai yayasan. Gaji enam ratus ribu perak yang dua kali lipat lebih banyak dari gajinya di pul Mayasari Bhakti membuat Asep langsung menerima ajakan temannya itu. Baginya tawaran pekerjaan itu merupakan kesempatan langka dan sangat baik.

Berbekal ijazah SMA, Asep mengikuti berbagai tes hingga akhirnya mencapai tahap akhir yaitu wawancara. Ternyata Asep kembali menemukan pil pahit berupa kenyataan bahwa ia harus menyiapkan sejuta perak agar diterima. Ia diberi batas waktu oleh oknum pewawancara tersebut hingga tanggal tertentu untuk menyerahkan uang pelicinnya. Apabila tidak dapat dipenuhi maka tempat Asep akan diisi orang lain yang sanggup membayar. Asep menyanggupi permintaan oknum tersebut karena baginya pekerjaan tersebut merupakan batu loncatan untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Ia kembali banting tulang, hingga sehari batas waktu yang ditentukan Asep baru mendapatkan tiga perempat juta. Ia masih harus mencari seperempat juta lagi agar dirinya mulus diterima.

Hingga akhirnya tadi malam, Asep - saudara angkat saya - datang berkunjung ke rumah mengutarakan niatnya untuk meminjam sisa uang seperempat juta tadi. Asep bercerita panjang lebar tentang perjuangannya selama dua tahun hidup di daerah terminal Kampung Rambutan. Kami pun mengobrol dan berdiskusi. Mengetahui Asep memiliki bakat menolong orang yaitu memijat, saya pun memutuskan untuk tidak memberikan pinjaman seperempat juta itu. Saya usulkan untuk mencoba bernegosiasi terlebih dahulu dengan oknum tersebut agar mau menerima tiga perempat juta saja. Dan sebuah solusi dicoba ditawarkan kepada Asep agar menjadi seorang tukang pijat profesional. Kebetulan Bu Yati - seorang tukang pijat langganan keluarga - mengaku kekurangan banyak tenaga pemijat guna memenuhi kebutuhan pelanggannya yang semakin banyak. Apalagi pelanggan Bu Yati ada orang-orang 'Besar'. Sebutlah dua di antaranya mantan Presiden RI Megawati dan Raja Dangdut Indonesia Rhoma Irama *teeeeeeeet ngikutin suara gitar patahnya*. Toh dengan menjadi karyawan Bu Yati, Asep tidak harus bergelut dengan Tessy tetangganya karena daerah operasi Asep pasti berbeda dan lebih luas dari daerahnya Tessy.

Nah Asep, perjuangan hidupmu akan memasuki babak baru. Jika memang jodoh, dengan uang tiga perempat juta, om oknum keparat itu mau menerima Asep menjadi karyawan pemadam kebakaran. Atau jika nasib berkata lain, semoga Bu Yati dapat segera mempekerjakan kamu menjadi ahli staf pijatnya. Tapi jujur saja, saya lebih senang kamu jadi seorang tukang pijat profesional. Kalau kamu cerdas bukan tidak mungkin lama-lama akan memiliki jaringan sendiri dan membuka cabang-cabang di banyak kota besar. Atau setidaknya, mudah-mudahan kamu bisa keluar dari jaring-jaring kanibalisme yang mengakar di masyarakat jika masih saja mengharapkan bekerja pada suatu instansi pemerintah.

Asep, asyik juga ya jadi saudara angkat kamu. Mudah-mudahan keadaan menjadi lebih aman jika berada di Kampung Rambutan dengan cukup menyebut 'ASEP DOLE' sama preman-preman dan pedagang di sana.

Selasa, Agustus 23, 2005

Ikhlas dan Tekun saja gak Cukup

Baru dua hari yang lalu saya menulis tentang keadaan Warni, hari ini dia sudah tidak bekerja lagi di rumah dan mudah-mudahan ia sudah berada di tempat tinggalnya di Tegal.

Dilihat dari kasus Warni, ternyata saya memang belum memiliki 'sesuatu' yang dapat menumbuhkan motivasi bekerja dan belajar di hatinya. Baru sehari kerja ia sudah merasa bosan. Mungkin saya di benaknya adalah orang yang sok tahu. Seakan-akan saya yang paling tahu dengan keadaan dirinya sehingga seenaknya saja menasehati dan menyuruh belajar sesuatu yang ia tidak senangi.

Sudahlah, saya rela ia kembali lagi ke Tegal menemani dan merawat anaknya tercinta. Semoga ia mendapatkan pekerjaan yang lebih layak daripada menjadi seorang pembantu rumah tangga. Sukur-sukur niat dan motivasi untuk belajar membaca tumbuh dan beruntung mendapatkan seorang guru membaca.

Ternyata niat yang ikhlas untuk berbuat kebaikan tanpa diiringi pengetahuan yang cukup tentang apa yang akan diperbuatnya, kesabaran untuk melakukan di waktu yang tepat, menghilangkan kesombongan, dan kearifan akan menjadi tidak berguna apabila perbuatan baik itu malah tidak dapat dilaksanakan.

Tampaknya jalan untuk menjadi tenaga pendidik yang baik diperlukan banyak belajar lagi. Belajar bukan saja menguasai materi yang akan diajarkan tetapi juga belajar cara menyampaikan materi agar materi yang diajarkan mampu diserap dan diterima dengan baik.

Senin, Agustus 22, 2005

PR Kita Masih Banyak

Namanya Warni, tapi dia lebih senang dipanggil Nani. "Soalnya saya cuman bisa nulis Nani, kalau Warni susah," jawabnya memberikan alasan mengapa dirinya tidak mau dipanggil Warni. Itulah salah satu jawaban polos seorang perempuan berusia 21 tahun asal Tegal beranak satu yang sudah ditinggal kabur suaminya.

Terus terang Warni adalah seorang pembantu yang baru mulai hari ini bekerja di rumah ibu saya. Ia adalah seorang perempuan unik di zaman 60 tahun Indonesia telah merdeka. Tapi ingat, keunikannya bukan karena kecantikan polos alami ala pedesaan ataupun karena kemolekan lekuk tubuhnya. Ia adalah seorang yang 'Buta Huruf'. Sungguh kaget hati ini mengetahui dirinya sama sekali tidak mengetahui huruf-huruf alfabet A hingga Z ketika saya sedang menanyakan seputar dirinya dan perkejaan yang bakal dilakoninya setiap hari di rumah.

Hati ini pun semakin miris mengetahui dirinya yang seorang muslimah tidak bisa sholat, wudhu, dan bahkan tidak hafal surat al-Fatehah. Syukurlah ia masih dapat melafalkan basmallah secara lengkap walau tidak fasih.

Sulit sekali rasanya membayangkan diri sendiri yang dilahirkan tanpa cacat fisik sedikitpun namun kemudian menyadari bahwa dirinya berada dalam kegelapan. Mata yang melihat hakikatnya buta. Seakan-akan dunia ini gelap tidak bercahaya lalu bertambah suram akibat di sekeliling badan kita terhimpit oleh tembok-tombok tinggi. Tidak berbedalah diri ini dengan seekor binatang yang hanya makan, minum, tumbuh dewasa, buang hajat, bereproduksi, tua, dan lalu mati. Akal pikiran sebagai senjata manusia dibelenggu oleh ketiadaan sinar cahaya ilmu dan tembok besar itu. Ketiadaan akal pikiran kadang membuat manusia justru lebih rendah dari binatang. Setidaknya insting binatang lebih kuat dibandingkan insting manusia. Ah sedih sekali…

Air muka yang kelelahan, wajah yang sudah terdapat kerutan, dan rambutnya yang cepak membuat dirinya tampak jauh lebih tua dibandingkan perempuan-perempuan seusianya yang cenderung sedang mekar-mekarnya.

Dari pembicaraan lanjutan antara dia dan saya, sepertinya ia tidak keberatan dan tidak menyesali dengan keadaan dirinya yang buta huruf. Baginya sudah cukup dapat bekerja mencari nafkah guna menghidupi anaknya semata wayang. Sudah bisa diduga bahwa faktor ekonomilah yang membuat dirinya tidak dapat mengenyam bangku pendidikan.

Kutanyakan kepadanya apakah dia mau seandainya diajarkan membaca. Dengan tegas ia menjawab tidak mau. Males sama pusing Mas kalau belajar! Enakan kerja." Akal saya terus berputar agar motivasi dalam dirinya untuk setidaknya bisa membaca tumbuh. Namun sanggahan dan jawaban yang itu-itu juga
membuat saya kecewa. Tampaknya dirinya sudah antipati bahwa bisa membaca itu tidak berguna dan sudah sangat terlambat bagi dirinya. Tapi saya tidak akan mundur untuk membuat dirinya bisa membaca selama dia bekerja di rumah.

Kota Tegal yang berkembang dan terletak di Pulau Jawa saja masih ada penduduknya yang buta huruf. Pasti masih ada Warni dan Warno lainnya di Tegal dan tentu lebih banyak lagi Warni dan Warno lain di daerah yang lebih pelosok dan terpencil di seluruh Indonesia. Pengentasan kemiskinan bagi saya adalah cita-cita yang terlalu muluk jika pendidikan disepelekan dan ditelantarkan.

Nah teman-teman, tampaknya kita memang harus lebih bersyukur lagi. Keegoan kadang-kadang menutup mata hati untuk membantu orang lain yang tidak seberuntung kita. Homework atau PR kita masih banyak dalam menolong saudara-sadara kita. Pertolongan dengan hati ikhlas seberapapun besarnya dan dilakukan terus menerus semoga saja bisa menjadi salah satu bentuk pertolongan yang terbaik. Kebahagian mereka adalah kebahagiaan kita juga bukan?

:-)

Jumat, Agustus 19, 2005

Damailah Selalu!

"Gila, akhir pulang juga loe Ray. 2 tahun man 2 tahun..!" *nepuk-nepuk pundak Array dengan penuh semangat*

"Hi hi hi kenapa loe heboh banget!"

"Kurus banget, malah begengan elo daripada gue nih? Makan apa aja sih di hutan?" *ngeliat heran wajah Array yang pucat ditambah tulang pipi menonjol dan mata sedikit cekung*

"Biasa aja lagi... paling Celeng, Ular, Ayam, mau nyoba? Enak gila hihihi!"

"Gimana perasaan elo perang sama sodara sendiri di Aceh man?"

"Pedih perih Yu! Pengalaman pertama gue bunuh orang GAM bikin gue gak bisa tidur 2 hari. Gak mikirin terus istri sama anak-anaknya. Gue stress berat apalagi sesama Muslim."

"Gile loe sadis juga. Ngomong-ngomong selama perang 2 tahun ini sudah berapa nyawa dah loe sikat?"

"Mana sempet gue ngitung Yu! Banyaklah... Gue pertamanya terpaksa nembak mereka daripada gue ditembak dulu! Alhamdulillah gue sebagai komandan sangat bersyukur. Biar jadi pasukan pemukul yang masuk-masuk hutan gak ada satu pun anak buah yang mati kena peluru. Ada satu orang meninggal tapi itu gara-gara sakit Malaria."

"Wah gile loe dah jadi pembunuh berdarah dingin."

"Keadaan man keadaan. Lagian loe pasti bakal nangis kalo gue balik ke Jakarta tinggal nama doang. Ngaku dah loe!"

"Iya sih, anak-anak juga kangen banget sama elo Ray! Pas ada tsunami hampir tiap hari kita-kita nelponin bokap nyokap elo cuman pengen mastiin elo selamat."

"Wah waktu itu gue lagi di gunung masih ngejar GAM."

"Untung deh loe, sekarang gimana? Gak ke Aceh lagi kan?"

"Sapa bilang? Kalo perjanjian gagal pasukan gue bakal yang pertama dikirim balik ke sana."

"Hayooooo! Udah deh jangan lagi. Sampe kapan mau damai nih Indonesia. Lagian Aceh dah ditimpa bertubi-tubi musibah. Gak bisa bayangin kalo perjanjian MOU GAM-RI gagal."

"Gue sebagai prajurit pasti seneng lah Aceh damai, gue gak usah perang sama sodara sebangsa dan seagama. Energi yang dipakai buat perang mending buat membangun."

"Ha hahaha... dasar tentara otaknya berbakti sama nusa bangsa melulu hahaha...!!!"

Hehehe.. daripada elo gak berbakti sama siapa-siapa. Sama orang tua masih berbakti gak loe? Jangan-jangan durhaka luh!"

"Kapan balik ke markas di Malang Ray?"

"Minggu depan, tapi besok gue ke Bandung mau ketemu Bokin hehehe"

"Anjrit... mentang-mentang dah mau merrit kagak sabar aja nih bawaannya!"

"Normal man normal.....!"

"Rencana elo di Malang?"

"Gue mau sekolah lagi Yu. Mau ngambil S1 nih. Doain ya. Lulus Akabri aja gak cukup. Gue perlu ilmu!"

"Yakin loe! Hebat gue dukung Ray!"

"Ya kalo gak ada perang lagi Insya Allah gue ambil S1. Kalo perang ya harus dibela lah"

"Udah lah mudah-mudahan kagak ada lagi perang. Kita-kita udah lelah dengan segala pertikaian antar bangsa. Capek!"

"Hehehe cie sok patriotik!"

"Gak terasa dah jam 11 malem nih, gak enak gue balik orang-orang rumah dah pada tidur."

"Oke deh Yu, salam ya buat anak-anak GC. Sorry banget gue gak bisa nemuin mereka cuti gue sebentar banget dan bini gue di Bandung dah marah-marah minta dijenguk!"

"Sip bro... salam ya buat calon elo. Biar cepet yak!"

"Bye!"

"Wa'alaikumussalaam"

Gak pernah bisa membayangkan kehilangan seorang sahabat karib yang gugur di medan perang. Zamannya gak ada penjajah lagi kecuali di Palestina dan Irak sepertinya aneh aja kok bisa tewas di medan perang? Mana perang lawan saudara sebangsa dan seakidah. Array, Jebag semoga elo berdua bisa selamat dan kita dapat terus bersama sampai kita beranak cucu dan jika memang harus mati jangan mati di medan perang apalagi peperangan melawan bangsa sendiri.

Semoga cita-cita elo berdua kuliah S1 bisa terwujud sukur-sukur sampai S3 seperti pak SBY. Menjadi prajurit yang cerdas yang membela rakyatnya.

Sampai ketemu lagi di pesta pernikahan nanti friends!

Kamis, Agustus 18, 2005

Bakti bagi Ibu Pertiwi

17 Agustus 2005 baru saja terlewati. Sebagian besar entitas masyarakat Indonesia menyambutnya dengan berbagai macam cara. Bermacam perlombaan rakyat yang meriah digelar di seantero Nusantara. Stasiun televisi menayangkan berbagai tayangan khas kemerdekaan mulai dari siaran langsung pengibaran dan penuruan Sang Saka Merah Putih hingga kondisi bangsa dan negara setelah 60 tahun merdeka. Media cetak pun tidak ketinggalan dengan menyajikan tulisan-tulisan khusus yang menyorot tajam 'kemunduran' yang dialami bangsa kita setelah terlepas dari 'Penjajah'. Bahkan para blogger pun tidak ketinggalan memeriahkan suasana kemerdekaan dengan tulisan dan tema Merah Putih.

Tema-tema yang diangkat tayangan televisi, media cetak, dan blogger memiliki sebuah kesamaan. Kesamaan tersebut berupa kesadaran bahwa kemerdekaan yang telah berumur 60 tahun pada hakikatnya belum sepenuhnya didapat. Kesadaran bahwa sebagai bangsa, Indonesia sedang mengalami kemunduran di setiap sendi kehidupan. Kesadaran bahwa sebagai bangsa kita masih belum cerdas dalam menghadapi tantangan globalisasi. Kesadaran bahwa kita masih saja terlena dengan kondisi alam kayanya yang sebenarnya mulai binasa akibat ketamakan. Kesadaran bahwa kerukunan dari berbagai agama dan suku bangsa yang ada belum sepenuhnya berjalan.

Tidak sedikit sebenarnya putra-putri Ibu Pertiwi yang cerdas telah berjasa mengharumkan nama bangsa. Tidak terhitung pula anak bangsa yang tulus dan ikhlas dalam membangun negeri namun sayangnya terlalu naif. Wajar jika bangsat-bangsat bodoh anak bangsa yang justru menguasai birokrasi dan hukum rimba. Pun memaki-maki para dedemit binti siluman nan haus darah tidaklah ada guna. Bisa jadi teriakan berupa caci maki sebenarnya mengarah ke teman, kerabat, saudara, orang tua, atau justru diri sendiri.

Sungguh buram kondisi bangsa ini. Lalu apa upaya sebagai anak bangsa yang biasa-biasa ini guna membangun dan memperbaiki itu semua? Saya sendiri tidak tahu upaya apa itu. Tulisan ini setidaknya sebagai sarana penyadaran dan penggugat diri sendiri agar lebih serius, tekun, bekerja keras, dan bersungguh-sungguh dalam mengerjakan setiap pekerjaan. Juga untuk selalu siap sesuai dengan kemampuan setiap ada kesempatan untuk menolong orang lain. Juga untuk memantapkan diri ini untuk menjadi 'Pahlawan tanpa tanda jasa'!

Mudah-mudahan hal yang kecil, sepele, dimulai dari diri sendiri, dan dimulai saat ini juga dapat memberikan kontribusi walau tidak berarti banyak bagi Ibu Pertiwi.

Sabtu, Agustus 06, 2005

Nongol lagi

Kembali lagi ke dunia blogging. Hanya kali ini tidak ada lagi yang namanya komen maupun shoutbox. Hanya ingin bebas berekspresi menuangkan imajinasi seliar mungkin!



--
:D