PR Kita Masih Banyak

Namanya Warni, tapi dia lebih senang dipanggil Nani. "Soalnya saya cuman bisa nulis Nani, kalau Warni susah," jawabnya memberikan alasan mengapa dirinya tidak mau dipanggil Warni. Itulah salah satu jawaban polos seorang perempuan berusia 21 tahun asal Tegal beranak satu yang sudah ditinggal kabur suaminya.

Terus terang Warni adalah seorang pembantu yang baru mulai hari ini bekerja di rumah ibu saya. Ia adalah seorang perempuan unik di zaman 60 tahun Indonesia telah merdeka. Tapi ingat, keunikannya bukan karena kecantikan polos alami ala pedesaan ataupun karena kemolekan lekuk tubuhnya. Ia adalah seorang yang 'Buta Huruf'. Sungguh kaget hati ini mengetahui dirinya sama sekali tidak mengetahui huruf-huruf alfabet A hingga Z ketika saya sedang menanyakan seputar dirinya dan perkejaan yang bakal dilakoninya setiap hari di rumah.

Hati ini pun semakin miris mengetahui dirinya yang seorang muslimah tidak bisa sholat, wudhu, dan bahkan tidak hafal surat al-Fatehah. Syukurlah ia masih dapat melafalkan basmallah secara lengkap walau tidak fasih.

Sulit sekali rasanya membayangkan diri sendiri yang dilahirkan tanpa cacat fisik sedikitpun namun kemudian menyadari bahwa dirinya berada dalam kegelapan. Mata yang melihat hakikatnya buta. Seakan-akan dunia ini gelap tidak bercahaya lalu bertambah suram akibat di sekeliling badan kita terhimpit oleh tembok-tombok tinggi. Tidak berbedalah diri ini dengan seekor binatang yang hanya makan, minum, tumbuh dewasa, buang hajat, bereproduksi, tua, dan lalu mati. Akal pikiran sebagai senjata manusia dibelenggu oleh ketiadaan sinar cahaya ilmu dan tembok besar itu. Ketiadaan akal pikiran kadang membuat manusia justru lebih rendah dari binatang. Setidaknya insting binatang lebih kuat dibandingkan insting manusia. Ah sedih sekali…

Air muka yang kelelahan, wajah yang sudah terdapat kerutan, dan rambutnya yang cepak membuat dirinya tampak jauh lebih tua dibandingkan perempuan-perempuan seusianya yang cenderung sedang mekar-mekarnya.

Dari pembicaraan lanjutan antara dia dan saya, sepertinya ia tidak keberatan dan tidak menyesali dengan keadaan dirinya yang buta huruf. Baginya sudah cukup dapat bekerja mencari nafkah guna menghidupi anaknya semata wayang. Sudah bisa diduga bahwa faktor ekonomilah yang membuat dirinya tidak dapat mengenyam bangku pendidikan.

Kutanyakan kepadanya apakah dia mau seandainya diajarkan membaca. Dengan tegas ia menjawab tidak mau. Males sama pusing Mas kalau belajar! Enakan kerja." Akal saya terus berputar agar motivasi dalam dirinya untuk setidaknya bisa membaca tumbuh. Namun sanggahan dan jawaban yang itu-itu juga
membuat saya kecewa. Tampaknya dirinya sudah antipati bahwa bisa membaca itu tidak berguna dan sudah sangat terlambat bagi dirinya. Tapi saya tidak akan mundur untuk membuat dirinya bisa membaca selama dia bekerja di rumah.

Kota Tegal yang berkembang dan terletak di Pulau Jawa saja masih ada penduduknya yang buta huruf. Pasti masih ada Warni dan Warno lainnya di Tegal dan tentu lebih banyak lagi Warni dan Warno lain di daerah yang lebih pelosok dan terpencil di seluruh Indonesia. Pengentasan kemiskinan bagi saya adalah cita-cita yang terlalu muluk jika pendidikan disepelekan dan ditelantarkan.

Nah teman-teman, tampaknya kita memang harus lebih bersyukur lagi. Keegoan kadang-kadang menutup mata hati untuk membantu orang lain yang tidak seberuntung kita. Homework atau PR kita masih banyak dalam menolong saudara-sadara kita. Pertolongan dengan hati ikhlas seberapapun besarnya dan dilakukan terus menerus semoga saja bisa menjadi salah satu bentuk pertolongan yang terbaik. Kebahagian mereka adalah kebahagiaan kita juga bukan?

:-)