Senin, Februari 19, 2007

Gong Xi Fat Chai

Alhamdulillaah bisa jalan-jalan lagi dalam rangka hunting walau masih belum punya kamera *kecian deh*. Bertepatan dengan Hari Raya Imlek (18/02/07), saya, Apit, dan Uyo mengunjungi Vihara Dharma Sakti di Petak Sembilan Glodok. Buat saya pribadi, kunjungan ini merupakan pengalaman pertama dan sangat menyenangkan. Teriknya sengatan matahari yang membuat kulit terbakar justru menjadi pembakar semangat dalam mengikuti ritual dan kegiatan yang ada di Vihara tersebut. Oya, semua foto yang saya tampilkan di sini adalah dijepret dan milik Apit. *masih sirik sama D70 Apit n Uyo :p*

Vihara Dharma Sakti

Kami sampai di Viraha ketika matahari hampir berada di atas kepala. Ketika kami datang, halaman Vihara sudah disesaki pengemis-pengemis yang mengharapkan angpao dari jemaat Vihara. Sungguh pemandangan yang luar biasa karena hampir semua yang terlihat oleh saya hanyalah para pengemis dan gelandangan. Mereka pun rela berpanas-panasan. Hebatnya, banyak dari mereka sudah mengantisipasi teriknya matahari dengan membawa payung serta makanan dan minuman secukupnya.

pengemis

Vihara yang mulai dibangun kembali sejak tahun 1972 itu sebenarnya terdiri dari beberapa bagian rumah ibadah. Seharusnya kami menanyakan fungsi dari masing-masing bangunan tersebut. Namun, insting wartawan yang tidak peka dan tidak terasah membuat kami malas menanyakan lebih jauh sejarah klenteng tua tersebut. Kami lebih tertarik momen-momen menarik yang ada di sekitar kami untuk diabadikan. Semoga foto-foto di bawah ini dapat bercerita sesuai dengan penafsiran Anda masing-masing.

Lilin dan sesaji di depan para Dewa-Dewa


Berharap Rejeki Berlimpah dan Kesejahteraan di Tahun Babi


Suasana Klenteng

Suasana Klenteng yang ramai dikunjungi Jemaat, Wartawan, Turis Asing, Pengemis, dan... tentu saja Fotografer

Barongsai

Bukan imlek namanya jika gak ada atraksi Barongsai yang menawan dan bertenaga. Setelah berjuang melawan asap di dalam klenteng akhirnya kami pun tidak kuat lagi akibat mata yang perih, nafas sesak, dan hidung yang mulai meler. Ketika keluar ternyata atraksi Barongsai baru saja dimulai. Saat itu hanya ada dua Barongsai yang sedang beratraksi. Walau hanya dua Barongsai tetapi sudah cukup membuat saya terkagum-kagum.

Pada atraksi tersebut setiap Barongsai dimainkan oleh dua orang penari dan sewaktu-waktu dapat digantikan oleh pemain lainnya. Pertunjukan juga diiringi musik khas Tionghoa. Semua alat musik pengiringnya adalah alat musik yang dipukul. Para pemainnya pun memukul dengan penuh energi dan semangat.

Atraksi


Barongsai juga Manusia


Pukul yang keras!


Interesting Things

Bocah-bocah

Hari Raya memang memberikan kebahagiaan dan keberuntungan bagi sebagian bocah-bocah namun tidak bagi sebagian lainnya. Namun dari yang tidak beruntung masih ada kok yang bisa tersenyum lepas...

Manis

Oh ternyata ada makhluk manis di antara kerumunan penonton Barongsai :-D


manis

On The Way Home

Rasa lelah dan lapar membuat kami memutuskan pulang. Kami pun berjalan kaki dari Klenteng ke Stasion Kota. Di sepanjang trotoar kami menjumpai beberapa pelukis jalanan. Lukisan yang ditawarkan berupa potret tokoh-tokoh nasional, artis lokal dan internasional, dan termasuk foto yang kita bawa dan diberikan kepada mereka agar dilukis. Tampaknya mayoritas para pelukis itu objek favoritnya adalah wanita :-)

Sesampainya di depan Gedung Museum Bank Mandiri, langkah kami malah tertahan dan justru berbelok memasuki gedung tua peninggalan Kolonial Belanda tersebut. Kami memutuskan untuk menonton pameran 1000 foto. Setelah membayar 2000 perak perorang kami pun menikmati jepretan-jepretan para fotografer profesional. Banyak foto-foto yang memang luar biasa tapi gak sedikit loh yang menurut saya gak ada gregetnya. Foto yang dipamerkan jumlahnya sangat banyak. Sepertinya melihat semua foto-foto yang dipamerkan lebih melelahkan daripada hunting lansung :-D

Saya sedang menikmati foto landscape pemandangan taman nasional Bromo Semeru Tengger

lelah bin capek

Rasa lelah seketika hilang setelah kami naik kuda-kudaan. Hore! Asyik seru banget!!! :-D

What's Next

Okay, what's next place or occasion? Hmm yang jelas, saya harus punya kamera dulu :p Kedua harus ada di keluar kota. Ketiga harus siap-siap izin cuti.... Tunggu aza deh tanggal mainnya

Senin, Februari 12, 2007

Kenduri Cinta: Kelayakan untuk Diadzab

Setahun sudah saya tidak bisa menghadiri acara Kenduri Cinta diakibatkan tugas kantor untuk mengikuti pendidikan yang waktunya Selasa dan Jumat malam selama satu tahun penuh. Padahal acara Kenduri Cinta ini selalu diadakan pada hari Jumat malam minggu kedua setiap bulannya. Akhirnya rasa rindu dan kangen itu dapat terpenuhi Jumat malam kemarin (9/02/07).

Bersama Apit, saya merasakan suasana Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki tidak berubah. Berbagai suku, agama, dan lapisan masyarakat dari seniman, aktivis, pekerja kantoran, bahkan warga asing hingga korban banjir Jakarta, pedagang asongan, dan tuna wisma sekalipun bercampur dan berlebur menjadi satu dalam suatu kenduri penuh cinta.

Gambar di bawah ini adalah foto nenek yang menurut saya seorang tuna wisma. Dengan sisa-sisa tenaganya nenek itu menikmati kacang rebus dan secangkir kopi panas pemberian pengunjung Kenduri Cinta lainnya. Tampak nenek ini tengah menatap sesuatu, entah apa yang ditatapnya. Mungkin diskusi yang didengarnya terlalu rumit untuk dicerna olehnya. Taken by Apit.

Tatapan kosong?

Topik yang dibahas pada Kenduri Cinta kali ini adalah "Menemukan Nilai, Merajut Makna ke-2 dengan tajuk Kelayakan untuk Diadzab". Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat seperti seniman yang diwakili Cak Nun, Kang Sobary, rohaniawan Katolik yang diwakili oleh Romo Beny, juga dari akademik, Walhi, dan para aktivis lainnya.

Kenduri Cinta

lesehan barokah

Masing-masing pembicara dengan latar belakangnya memaparkan dan menjelaskan tentang sudut pandang mereka bagaimana bencana banjir ini terjadi dan disikapi. Dari semua pembicara itu, saya mencoba mengungkapkan kembali apa yang saya dapati dan saya cerna yaitu bahwa kita semua sedikit banyak turut andil terjadinya musibah banjir.

Jakarta sebagai pusat segala-galanya membuat laju urbanisasi tak tertahankan sehingga kepentingan kapitalis mampu mengalahkan berbagai norma dan peraturan. Budaya kita yang tidak menghargai alam pun turut andil. Membuang sampah sembarangan di kali dan sungai sehingga menjadi dangkal dan menyumbat aliran air.

Sangat disayangkan penguasa di negeri ini hanya bisa mengucapkan "Mereka masih bisa ketawa-tawa kok, jangan dibesar-besarkan!" atau "AKU sudah menggelontorkan makanan dan minuman". Seharusnya banjir rutin tahunan dan lima tahunan ini sudah diantisipasi dengan kerja nyata bukan dengan berlomba-lomba membuat pencitraan yang baik di hadapan para rakyat kecil ketika banjir sudah terjadi. Terjun ke daerah musibah membagi-bagi bantuan yang nilainya jauh lebih kecil dibandingkan dengan ongkos pencitraan yang dibuat penguasa tersebut (publikasi).

Namun, Cak Nun mengungkapkan seharusnya yang paling bertanggung jawab adalah para penguasa. Dan jika memang sebagian besar korbannya adalah rakyat kecil itu adalah bagian dari 'Wanhar' dalam surat al-Kautsar yaitu pengorbanan. Kata Cak Nun, Allah sungguh memuliakan Nabi Ismail yang disebut sebagai sembelihan-Nya. Ya Nabi Ismail dikorbankan oleh Nabi Ibrahim sebagai bentuk ketaatan atas perintah Allah. Cak Nun berharap jika memang akan terjadi banjir lagi, biarlah para penguasa saja yang merasakan. Karena memang selama ini mereka tidak pernah merasakan banjir apalagi penderitaan rakyat kecil yang berkepanjangan.

Sayang, mungkin karena ngantuk dan kurang menyimak, saya tidak dapat menangkap solusi yang ditawarkan pada diskusi tersebut. Banyak dari pembicara masih melihat sumber dan penyebab masalah dan siapa yang bertanggung jawab tanpa mencoba memberikan solusi. Mungkin, solusinya adalah instropeksi dari masing-masing kita untuk lebih bijaksana menghargai alam dan tidak mengeksploitasinya habis-habisan.

Seperti biasa, di Kenduri Cinta selalu diisi oleh renungang, doa, dan pegelaran seni dari berbagai aliran seni. Pada kali ini diisi oleh sholawatan, seni musik melayu, dangdut melayu, dan tentu saja penampilan mbah Surip. Berikut ini adalah rekamannya dalam bentuk citra digital. Semua foto diambil oleh kamera Nikkon D70 Apit.

Peserta larut dalam doa. Taken by Apit.
larut dalam doa

Forum diskusi (kanan ke kiri): Cak Nun , Kang Sobary, dan Romo Beny. Taken by Apit.
suasana forum diskusi

Penampilan Mbah Surip yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba.

Salam khas Mbah Surip

Salam khas Mbah Surip. "Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. I LOVE YOU FULL! Ha... ha... ha... ha..." Terlepas dari kaedah bahasa, bagi saya makna I love you full jauh lebih dalam dari ucapan I love you so much seseorang kepada yang dikasihinya ;-)

Penampilan ekspresif Mbah Surip

bangun tidur ku tidur lagi

Istirahat sebentar hanya untuk mengantongi seekor anak kucing ya Mbah Surip? Taken by Apit.

ngantongin kucing

Entah kucing ini panik atau tak tahan ingin ikut bergoyang di kantong ketika Mbah Surip berduet sambil berdendang Dangdut Melayu. Taken by Apit.

kucing di kantong mbah Surip

Dua ribu rupiah seciduk kacang rebus, guna menghidupi keluarga. Saya suka sekali sama foto ini. Keren banget Pit! Taken by Apit.

kacang rebus

Insya Allah, sampai jumpa di Kenduri Cinta bulan depan. Bagi yang ingin ikut, istirahat yang cukup dulu sebelumnya, bawa pakaian hangat, dan selalu bawa payung. Maklum acaranya dari jam 8 malam hingga pagi dini hari.